Sagu Diharapkan Jadi Komoditas Pangan Strategis Nasional

Dibaca: 1415 kali  Sabtu,28 Juli 2018 | 11:06:00 WIB

Sagu Diharapkan Jadi Komoditas Pangan Strategis Nasional
Ket Foto : Penandatanganan MoU pengembangan Pangan Lokal

JAKARTA - Komoditi sagu yang cukup melimpah di Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, diharapkan bisa menjadi komoditas pangan strategis Nasional, dalam rangka mendorong percepatan penganekaragaman pangan berbasis sumber daya.
 
Harapan itu disampaikan Bupati Kepulauan Meranti, Irwan Nasir saat menjadi narasumber kegiatan Gelar Pangan Nasional yang ditaja oleh Kementerian Pertanian Badan Ketahanan Pangan RI, di Balai Kartini, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Jum'at 27 Juli 2018.
 
Hadir pada acara itu, Sekjen Kementerian Pertanian RI, Ir. Syukur Iwantoro, Direktur Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kemenkes RI, Dr. Riskiyana Sukandi Putra M.Kes, Ketua GAPMMI Ir. Adi Lukman dan unsur lainnya.
 
Mengawali pemaparannya, Bupati Irwan mengapresiasi Kementerian Pertanian yang telah menyelenggarakan kegiatan itu, ia berharap melalui kegiatan tersebut terjadi sosialisasi tentang pangan lokal khususnya Sagu.
 
Saat ini, kata Irwan, untuk mengembangkan Sagu tidak cukup hanya dilakukan oleh Pemerintah Daerah penghasil Sagu saja, tetapi harus mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pertanian.
 
Seperti diinformasikan Bupati Irwan yang juga Ketua Forum Komunikasi Kabupaten Penghasil Sagu Seluruh Indonesia (Fokus Kapasindo), potensi Sagu Indonesia sangat besar, dimana dari catatannya Indonesia adalah sumber penghasil Sagu terbesar di dunia.
 
"Dari seluruh potensi Sagu di Dunia, 5,5 Juta Hektarnya ada di Indonesia, tersebar di Papua 4 Juta Hektar dan di 67 Kabupaten lainnya, dimana salah satunya berada di Kabupaten Kepulauan Meranti. Jika di total hampir mencapai 6 Juta Hektar," jelas Irwan.
 
Menurutnya, sagu tergarap dengan baik baru di Meranti dan beberapa Kabupaten saja. Khusus di Kepulauan Meranti, telah berhasil menempatkan Sagu sebagai komoditas ekspor andalan, menghasilkan tepung Sagu kering berkualitas tinggi 3000 Ton Pertahun untuk di ekspor kemancanegara.
 
"Sagu Meranti dikirim ke Jepang, Singapura, Malaysia dan ke Cirebon untuk mencukupi kebutuhan Sagu Nasional, dan ada juga pengusaha lokal yang mengekspor Sagu basah ke negara tetangga Malaysia dan Singapura, serta Cirebon," jelasnya lagi.
 
Sejauh ini kendala yang dihadapi, ungkap Irwan, masih sangat kecilnya pasar Sagu di Indonesia dan dunia, hal ini dikhawatirkan lambat laun akan menyebabkan petani Sagu mengalih fungsikan lahan produktifnya untuk komoditas lain yang dianggap lebih menguntungkan.
 
Sekedar informasi, saat ini harga tepung Sagu kering dipasaran Kepulauan Meranti hanya berkisar 5.500 perkilogram, jauh lebih murah jika dibandingkan dengan beras, padahal jika dilihat dari segi gizi tidak kalah.
 
"Untuk itu kami memandang sangat perlu campur tangan pemerintah pusat untuk memberikan rangsangan kepada para petani Sagu agar bersemangat mengembangkan pangan alternatif ini di Indonesia, karena Sagu sangat layak menjadi alternatif menggantikan beras," jelasnya lagi.
 
Seperti disadari, lahan padi atau beras dari waktu kewaktu terus menurun, begitu juga produksinya dan disisi lain jumlah penduduk Indonesia terus bertambah diperkirakan dalam beberapa tahun kedepan pasokan beras di Indonesia lambat laun akan memasuki fase krisis.
 
"Oleh karena itu mulai saat ini Pemda yang didukung oleh Pemerintah Pusat sudah harus memikirkan Sagu sebagai alternatif pengganti beras, Sagu sebagai komoditas asli Indonesia dengan potensi yang melimpah harus didorong perkembangannya," papar Irwan.
 
Ia mengajak semua pihak untuk mendukung Sagu sebagai pangan yang sehat dan bergizi tinggi dengan mensosialisasikannya kepada seluruh rakyat Indonesia, hingga kedepannya dihasilkan berbahai jenis makanan yang terbuat dari olahan Sagu dan yang terpenting dapat diterima luas oleh masyarakat Indonesia.
 
"Khusus di Kepulauan Meranti, kami sudah berhasil mendapatkan Rekor MURI sebagai daerah yang sukses menciptakan menu berbahan dasar Sagu terbanyak di Indonesia, yakni 369 variasi. Saya kira ini perlu disosialisasikan agar rakyat Indonesia tahu bahwa Sagu bisa dikembangkan dan bisa dijadikan bahan makanan layaknya beras ataupun gandum," ulasnya.
 
Salah satu masukan terpenting dalam rangka mengembangkan Sagu dan meningkatkan kesejahteraan petani, Irwan mengharapkan partisipasi Perum Bulog sebagai pengelola logistik negara dalam membeli komoditas Sagu layaknya beras.
 
"Jika Bulog membeli Sagu sebagaimana Bulog membeli beras, kami yakin kesejahteraan petani Sagu akan meningkat sekaligus memberikan rangsangan bagi mereka untuk terus mengembangkannya, sehingga Sagu tidak kalah saing dibanding beras, gandum, jagung, kedelai dan lainnya," ungkap Irwan.
 
Pada kegiatan itu, Bupati Irwan sebagai Ketua Fokus Kapasindo melakukan penandatanganan MoU pengembangan Pangan Lokal dengan Kepala Badan Ketahanan Pangan, Ketua Asosiasi Petani Organik, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), dan Ketua Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI), yang disaksikan oleh Sekjen Kementerian Pertanian RI, Ir. Syukur Iwantoro.
 
Sekjen Kementan RI dan rombongan juga berkesempatan mengunjungi Stand Pameran Pangan Lokal dari seluruh Provinsi di Indonesia dan mencicipi aneka makanan yang disajikan, dimana para tamu yang hadir tampak antusias menikmati makanan olahan pangan lokal yang ada. (rls/red)
Akses JurnalMadani.com Via Mobile m.JurnalMadani.com