BRG RI: Meranti Daerah Paling Cocok Untuk Penelitian Gambut

Dibaca: 434 kali  Kamis,15 November 2018 | 02:57:00 WIB

BRG RI: Meranti Daerah Paling Cocok Untuk Penelitian Gambut
Ket Foto : Ramah tamah Deputi IV Bidang Penelitian dan Pengembangan BRG RI, Haris Gunawan dengan jajaran Pemkab Kepulauan Meranti

MERANTI - Badan Restorasi Gambut RI sebuah lembaga yang konsen dalam menjaga kelestarian hutan Gambut di Indonesia, menilai Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, paling cocok menjadi daerah penelitian gambut di Indonesia bahkan Dunia.
 
"BRG menilai Kepulauan Meranti merupakan daerah yang paling cocok menjadi pusat penelitian gambut," kata Deputi IV Bidang Penelitian dan Pengembangan BRG RI, Haris Gunawan, saat acara ramah tamah bersama Pemda Kepulauan Meranti sempena kegiatan Tropical Peatland Roundtable Discussion, di Ballroom Hotel Grand Meranti, Selatpanjang, Rabu 14 November 2018.
 
Lebih jauh dikatakan Haris, itulah yang mendasari BRG RI menjadikan Kepulauan Meranti sebagai Pusat Laboratorium Penelitian Gambut Dunia, seperti saat ini dengan memfasilitasi para Pakar Lingkungan dan Gambut dunia yang berasal dari 10 negara untuk mengunjungi 3 Desa di Kecamatan Tebing Tinggi Timur, yakni Desa Tanjung Sari, Desa Lukun dan Desa Sungai Tohor.
 
Seperti diberitakan, kedatangan rombongan BRG RI ke Meranti di 3 Desa tersebut untuk melihat secara langsung Kebun Sagu, Budidaya Kolam Ikan, Kanal Blocking, Potensi Kebun Kelapa di lahan Gambut, Kebun Kopi, serta Kunjungan ke Kilang dan Perusahaan Sagu yang ada di Meranti.
 
Dikatakan Haris lagi, kegiatan ini merupakan kegiatan Internasioal yang digelar oleh BRG RI bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, yang baru saja melounching pusat penelitan Gambut. Dan bicara soal pusat penelitian Gambut di Indonesia dijelaskan Haris, salah satunya berada di Provinsi Riau tepatnya di Kepulauan Meranti.
 
Hal itu jelas dibunyikan dalam Keppres yang menyebutkan 4 daerah di Indonesia sebagai daerah prioritas penelitian gambut, yakni Provinsi Riau dipusatkan di Meranti, 1 di Provinsi Kalimantan Tengah dan 2 di Provinsi Sumatera Selatan.
 
Dipilihnya Meranti sebagai pusat penelitian gambut, diakui Deputi IV BRG RI, salah satunya untuk mendorong masyarakat di Kepulauan Meranti lebih bersemangat mengembangkan lahan gambut. Alasan lainnya untuk membuat terobosan teknologi tentang bagaimana sebenarnya gambut dimanfaatkan dan dikelola untuk menepis stigma kawasan gambut identik sebagai kawasan kebakaran potensial yang sulit ditangani.
 
Selanjutnya dihadapan para pakar lingkungan dan jajaran pejabat Pemkab Meranti, Haris berharap dengan adanya kegiatan ini dan berkat dukungan semua pihak, cita-cita BRG untuk menjadikan Kabupaten termuda di Riau ini sebagai pusat Laboratorium Gambut Internasional dapat terwujud.
 
"Semoga apa yang kita cita-citakan bersama menjadi Meranti sebagai pusat penelitian Gambut dunia dapat terwujud," harap Haris.
 
Sementara itu, Asisten II Setdakab Meranti, Syamsuddin, dalam sambutannya di acara tersebut mengucapkan terima kasih kepada BRG yang akan menjadikan Kabupaten Kepulauan Meranti sebagai pusat penelitian Restorasi Gambut Internasioal. Ia berharap apa yang dilakukan BRG itu memberikan dampak positif bagi peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
 
Apalagi dari informasi yang diterimanya dari Deputi IV BRG RI, Kepulauan Meranti dijatahi dana Rp10 Miliar untuk penelitian gambut, dari total Rp49 Miliar dana yang disediakan.
 
"Terima kasih kepada BRG RI yang telah menjadikan Meranti sebagai pusat penelitian gambut Internasional," ujar Syamsuddin.
 
Sekedar informasi, dalam kunjungannya di Kepulauan Meranti, BRG RI membawa rombongan yang terdiri dari para pakar lingkungan berjumlah kurang lebih 75 orang. Rombongan melakukan kunjungan di 3 Desa di wilayah Kecamatan Tebing Tinggi Timur yang direncanakan sebagai lokasi Laboratorium Penelitan Gambut Internasional.
 
Hadir juga dalam acara ramah tamah BRG RI dan Pemkab Kepulauan Meranti itu, Kepala Dinas LHK Meranti, Hendra Putra, Kepala Dinas Perindagkop UKM, Azza Faroni, jajaran pejabat eselon II dan III, para pakar Lingkungan dan Akademisi serta pejabat BRG RI. (rls/red)
Akses JurnalMadani.com Via Mobile m.JurnalMadani.com