Komjen Arief: Akpol Bukan Penitipan Anak

Dibaca: 264 kali  Senin,29 Juli 2019 | 09:07:00 WIB

Komjen Arief: Akpol Bukan Penitipan Anak
Ket Foto : Lulusan Taruna Akpol 2019

SEMARANG - Kepala Lembaga Pendidikan dan Latihan (Lemdiklat) Polri Komjen Arief Sulistyanto memberikan pengarahan kepada 264 calon taruna dan taruni Akademi Kepolisian di Semarang. Arief berulang kali meminta mereka untuk mulai mempersiapkan diri menghadapi pendidikan dan latihan yang panjang serta berat selama di Akademi Kepolisian.
 
"Jadilah taruna petarung, bukan ayam sayur," kata Arief di depan 233 calon taruna dan 31 calon taruni itu, Senin (29/7/2019) dilansir dari kumparan.
 
Jenderal bintang tiga itu juga mengingatkan ratusan anak muda ini untuk melakukan kilas balik perjalanan panjang mereka hingga akhirnya mereka bisa duduk diterima di akademi yang mencetak perwira Polri itu. Mereka akan dididik selama empat tahun sebelum kelak lulus dengan pangkat Inspektur Polisi Dua (IPDA).
 
"Selamat kepada kalian yang sudah lolos dalam proses seleksi yang cukup panjang dan ketat dari tingkat daerah hingga pusat. Ini berkat doa restu orang tua kalian. Ada yang baru satu kali ikut seleksi lalu lulus, ada yang dua kali, tiga, atau bahkan empat kali baru lulus," kata Arief dalam keterangan tertulisnya.
 
Mantan Asisten SDM Kapolri itu menambahkan, mereka yang lulus itu adalah orang yang beruntung dipilih dan terpilih oleh panitia seleksi yang sangat ketat. Sehingga wajar bila Polri berharap tidak salah pilih dan tidak salah memilih.
 
"Semua perjuangan kalian mulai dari proses seleksi hingga sampai hari ini tidak lepas dari doa dari orang tua. Itu menjadi bahan intropeksi kalian betapa beratnya berjuang untuk bisa ada di sini, di hadapan kami," ungkapnya.
 
Arief meminta hal-hal tersebut ditanamkan dalam diri taruna bahwa perjuangan berat mereka adalah langkah awal menuju tantangan besar. Langkah awal menuju perjalanan hidup yang cukup panjang, bukan euforia sesaat.
 
"Ini bukan langkah terakhir. Euforia kelulusan sudah selesai, mulai hari ini kalian akan memasuki tantangan kehidupan baru yang berbeda dengan masa remaja sebelumnya. Tidak bisa lagi celengekan, seenaknya, celometan. Kalian memasuki kehidupan taruna yang penuh etika dan peraturan untuk membentuk pribadi yang baik. Sehingga saya minta siapkan mental dan fisik kalian." tambahnya.
 
Pendidikan di Akpol, kata Arief, berbeda dengan pendidikan di tempat lain. Nilai disiplin, etika, dan nilai-nilai profesi akan selalu ditanamkan.
 
Negara memberi tanggung jawab kepada Lemdiklat Polri mendidik mereka selama empat tahun untuk menjadi perwira terbaik yang tangguh dan petarung yang profesional.
 
"Empat tahun bukan waktu yang pendek. Selama 4 tahun kalian akan diawasi dengan ketat. Kami berupaya menyiapkan kurikulum untuk mendidik dan melatih serta mengubah karakter kalian menjadi seorang yang dewasa dalam berpikir dan bertindak," bebernya.
 
"Tidak ada lagi kekanak-kanakan. Ingat, Akademi Kepolisian itu pusat pendidikan perwira Polri yang profesional. Bukan tempat pendidikan atau penitipan anak. Bukan play group atau kelompok bermain," tegas Arief.
 
Anak Jenderal dan Anak Sopir Diperlakukan Sama
 
Mantan Kabareskrim itu juga meminta para taruna menanggalkan status dan latar belakang masing-masing. Arief menambahkan, siapa pun mereka baik anak jenderal, anak kopral, anak pengusaha, anak petani, anak tukang ojek, atau anak sopir semua akan diperlakukan sama.
 
Mereka diberikan jatah yang sama mulai dari pakaian, pelajaran, hingga makan.
 
"Ini menunjukan kami tak membedakan, kami tidak peduli apa latar belakang kalian. Yang kami pedulikan bagaimana kami membentuk kalian menjadi perwira profesional. Mulai sekarang hilangkan latar belakang kalian. Beri tahu orang tua kalian untuk tidak ikut campur dalam proses pendidikan ini," pesan Arief.
 
"Lepaskan bayang-bayang orang tua kalian. Akademi Kepolisian memiliki standar tinggi dalam proses belajar mengajar dan kami akan menerapkan standar itu untuk mendidik kalian," tegasnya.
 
Arief juga meminta mereka untuk tidak ada yang sedikit-sedikit lapor orang tua. Kalau ada yang cengeng dan elek-elekan, takut, dan ragu, lebih baik mengundurkan diri dari sekarang.
 
Kata Arief, Polri ingin melahirkan perwira yang tanggap, tangguh, trengginas, dan berintegritas. Itu harus dimulai dari sekarang.
 
"Pagi ini saya melihat ada yang ngantuk, mulai besok tidak ada yang ngantuk lagi. Ngantuk adalah musuh pertama yang harus kalian lawan," ujar Arief saat menegur calon taruna yang mengantuk.
 
Arief juga meminta mereka untuk menumbuhkan kompetisi yang sehat. Kompetisi pertama adalah melawan diri sendiri. Tumbuhkan kompetisi yang sehat dan tanamkan jiwa korsa yang baik. Membantu dalam kebaikan, bukan dalam menutupi kesalahan dan kejahatan.
 
"Tunjukkan jati diri kalian untuk menjadi polisi melindungi dan mengayomi. Jangan jadi musuh masyarakat. Hilangkan pikiran kalian untuk menjadi polisi supaya kaya. Kalau ingin kaya tidak di sini, tapi jadi pengusaha saja," tambahnya. (red)
Akses JurnalMadani.com Via Mobile m.JurnalMadani.com