Opini

Menyoal Nasib Mahasiswa Perantauan di Kota Pekanbaru Saat Pandemi COVID-19

Dibaca: 144 kali  Rabu,20 Mei 2020 | 11:18:00 WIB

Menyoal Nasib Mahasiswa Perantauan di Kota Pekanbaru Saat Pandemi COVID-19
Ket Foto : Mustakim JM

Pandemi virus Covid-19 SARS-CoV-2 yang menyebabkan penyakit COVID-19 terus menyebar ke berbagai kota di Indonesia, tak terkecuali Kota Pekanbaru - Riau. Sehingga demi mengatasi dampak virus tersebut, pemerintah telah memutuskan untuk menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) kepada masyarakat, bukan karantina wilayah. 
 
Sehingga imbas dari virus Covid-19 ini membuat masyarakat menjadi resah. Hal tersebut juga tak pelak dirasakan oleh para mahasiswa rantau yang pada saat ini masih berada di daerah tempat mereka sedang menuntut ilmu, Kota Pekanbaru. 
 
Para mahasiswa dari luar Pekanbaru, bahkan luar negeri yang saat ini sedang kuliah di Kota Pekanbaru, kini mereka sedang sangat kebingungan dan juga resah karena tidak bisa mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari seperti sedia kala. Pasalnya, mereka yang mengharapkan uang kiriman dari keluarganya di daerah asalnya, sudah tidak lagi menerima kiriman akibat dampak virus Covid-19.
 
“Mari kita datangi mereka dan berbincang mengenai nasib mereka yang mungkin sudah kehabisan uang dan terancam kelaparan”.
 
Satu persatu mereka menyampaikan isi hati, disini secara keadaan ekonomi keluarga benar-benar darurat karena COVID-19. Jadi pemasukan keluarga yang biasanya mungkin sehari bisa menghasilkan, untuk di kondisi seperti ini mereka berhenti bekerja baik akibat PHK atau status lainnya, sehingga para mahasiswa perantau ini disini tidak dapat pemasukan dan bisa saja kekurangan makanan. Mereka berharap, terutama kepada pemerintah Kota Pekanbaru, khususnya Pak Walikota dan para wakil rakyat di DPRD Kota Pekanbaru maupun Provinsi Riau. 
 
Agar diperhatikan minimal tahu mengenai informasi tentang mahasiswa yang saat ini sedang bertahan hidup dengan sisa uang yang mereka punya, karena sebagian dari mereka sudah tidak bekerja dan satu-satunya yang mereka andalkan adalah dari uang kiriman yang diberikan oleh orang tua mereka.
 
Sebagian mereka tak memiliki saudara mara atau sanak keluarga di Kota ini, mereka harus memutar otak bagaimana bertahan hidup selama pandemi Covid-19 dan PSBB yang tak pasti kapan akan normal kembali (kota ini sudah jilid III). 
 
Beberapa kantin langganan berhutang dan warung makan harus tutup, sehingga mereka mulai inisiatif masak di kosan untuk membatasi aktivitas di luar. Mereka taat dan patuh kok sama peraturan pemerintah, dilarang mudik mereka bersedia karena ini juga amanah dari keluarga.Kesedihannya bukan hanya sebatas menunda mudik saat Idul Fitri, namun ketidakpastian kapan pandemi Covid-19 akan berakhir. 
 
Para Mahasiswa ini bahkan tak bisa memastikan kapan bisa bertemu dengan keluarganya di kampung halaman. Sedih pasti karena belum tahu juga kapan wabahnya (Covid-19) berakhir dan kalau udah berakhir pun belum tentu ada waktu atau kesempatan buat pulang kampung karena pasti perkuliahan tatap muka akan aktif kembali. Mereka paham untuk urusan perut tak bisa pakai secara daring berhubung uang mulai mengering.
 
Ada beberapa saran untuk walikota, anggota dewan dan para orang kaya yang dermawan:
 
1. Sediakan dapur umum di setiap titik kelurahan se Kota Pekanbaru
 
Walikota turunkan perintah dari istananya, setiap Camat, seluruh kecamatan yang ada di Kota Pekanbaru seharusnya buat dapur umum di kelurahan dan kecamatan, dipasangkan tenda PSBB dalam bentuk posko sehat sesuai standar. Jadi bila ada mahasiswa atau Masyarakat Kota Pekanbaru yang kelaparan bisa menuju ke alamat. Semua elemen baik camat, lurah hingga RT/ RW agar dapat berperan aktif memperhatikan warganya atau orang disekitar wilayahnya. Sediakan menu sederhana dan manusiawi agar bisa disyukuri. Sama-sama tak pulang kampung judulnya. Menang banyak donk mahasiswa dan masyarakat? Eh yang udah menang dan makan banyak siapa? Sini Situ atau yang Sana?
 
2. Buatlah Open House (yang nggak open kali, perhatikan aturan PSBB) mulai malam takbir hingga hari ke-7 lebaran
 
kepada pemko, para anggota dewan, para orang kaya, jutawan, milyarder, dll berikan sebagian hartamu dalam bentuk makanan siap santap atau minuman bernutrisi, jangan lupa kueh mueh lebaran dan juga ketupat. Kalo ribet buat open house, bikin aja Nasi Cup berlauk teri tahu tempe kecap (yang penting ada sambal cabenya), pajang di etalase-etalase pinggir jalan dan keramaian. Tulis, siapa saja boleh menikmati dan siapapun bisa mengisi kembali. Simple tapi efisien. 
 
3.Kunjungi mereka satu persatu dan berikan sembako berkala
 
 Pemerintah Kota Pekanbaru berencana (masih berencana atau gimana pak? Udah dekat leabaran ini) menyalurkan bantuan bagi mahasiswa luar daerah yang masih berada di kota ini. Mereka nantinya akan didata by name dan by adress agar tepat sasaran itu menurut Kabag Humas Setdako Pekanbaru, Mas Irba Sulaiman, Senin (4/5/2020, sumber: Portal Pemko Pekanbaru dan Antara News). Saat ini baru mahasiswa asal Universitas Lancang Kuning yang mengajukan diri sebagai calon penerima bantuan. Jumlahnya mencapai 586 orang. Baru dari satu universitas ya pak belum semua. Maka kunjungilah mereka melalui satgas/ petugas khusus yang amanah supaya ini berkah.
 
4.Periksa kesehatan mereka secara rutin
 
 Awali dengan cek suhu tubuh mereka sebagai pencegahan penyebaran virus Covid-19. Petugas biasanya akan mengarahkan termometer ke kening orang yang akan diukur suhunya. Nah gunakan alat yang sehat sehingga hasil valid.
 
5.Beri motivasi terdata melalui daring setiap hari
 
Virus Covid-19 saat ini jadi topik kesehatan global. Semua orang membicarakannya, mulai dari masyarakat elit di kota hingga dipelosok penjuru dunia, pun semua media menulis tentangnya. Tugas kita yang mengerti keadaan ini adalah memberikan waktu untuk memproses apa yang terjadi dan merasionalisasikan pikiran agar masyarakat tidak cemas. Cara yang bisa dilakukan adalah beri motivasi dan pengetahuan dengan bahasa sederhana dan mudah dipahami, contoh tips merawat diri sendiri atau self care. 
 
Guys, PSBB diberlakukan tanpa (mungkin) sosialisasi yang tepat, akan membuat panik masyarakat. Sebagai contoh yang baru saja terjadi (18 Mei 2020 malam) masyarakat Kota Dumai protes keras hingga turun kejalan. Itu hal yang wajar saja terjadi karena dampak Covid-19 untuk sosial itu sangat besar negatifnya. Untung saja di kota Pekanbaru belum terdengar atau terberitakan adanya penjarahan dan lain yang seidentik dengan istilah tersebut. Semoga ini lekas berlalu dan keadaan kembali normal seperti sediakala. Sebagai masyarakat yang cerdas mari kita kawal kerja pemerintah agar bantuan tepat sasaran dan tidak ada pihak yang dirugikan.
 
 
Ditulis oleh:
 
Mustakim JM (Akademisi)
YouTube: Mr. Kim
Instagram: mustakim.jm
Fb: Mustakim JM Bin Ismail
WA: 0823 8650 8415
Akses JurnalMadani.com Via Mobile m.JurnalMadani.com