Sanggar Kuala Kasih Sang Penjaga Kuala

Dibaca: 58 kali  Jumat,04 September 2020 | 07:34:00 WIB

Sanggar Kuala Kasih Sang Penjaga Kuala
Ket Foto :

 
PELALAWAN-Penyalai memiliki khasanah budaya yang relatif  banyak, salah satunya adalah kesenian tradisional yang terbentuk. Kondisi real kesenian tradisional sekarang ini sebagian mulai punah dan sebagian lagi hidup enggan mati tak mau. Upaya pelestarian yaitu perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan sudah dilakukan baik oleh pemerintah maupun  masyarakat. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya perhatian terhadap wadah/ tempat bernaung kesenian, sanggar. 
 
Sanggar Kuala Kasih berperan dalam menjaga kelestarian kesenian tradisional di Pulau Penyalai. Peranan sanggar dalam kesenian tradisional adalah sebagai wadah/ tempat bernaung sejumlah disipln seni budaya, sebagai media edukasi baik pendidikan maupun latihan, juga sebagai media hiburan bagi masyarakat sekitar dan peminat seni, sebagai tempat mengatur strategi seputar seni yang ditekuni, sebagai tempat bersilaturahmi (berkumpul dan berdiskusi) dalam rangka mempererat persaudaraan.
 
Saat ini, Sanggar Kuala Kasih dikelola oleh sekumpulan milenial yang dikomandoi oleh Arlan Attahjuddin, S.Pd, ia adalah seorang Guru Seni Budaya dan berkegiatan dalam berbagai ilmu kesenian seni seperti seni tari, seni lukis, seni kerajinan atau kriya, seni peran dll. Kegiatan yang ada dalam Sanggar Kuala Kasih berupa kegiatan pembelajaran tentang seni, yang meliputi proses dari pembelajaran, penciptaan hingga produksi dan semua proses hampir sebagian besar dilakukan di dalam sanggar dengan fasilitas seadanya.
 
Keberagaman seni dan budaya di Penyalai sebenarnya merupakan daya tarik bagi wisatawan dalam dan luar negeri untuk mengunjungi Pulau Mendol yang mungil ini. Dalam perkembangannya, Sanggar Kuala Kasih terus berupaya melalui berbagai aspek untuk dapat memelihara seni dan budaya lokal agar tidak hilang ditelan zaman. Dengan adanya Sanggar Kuala Kasih diharapkan semakin banyak anak-anak atau generasi penerus yang dapat menyalurkan hobby mereka di bidang seni. Dan secara tidak langsung mereka dapat melakukan pelestarian budaya lokal agar tidak punah. 
 
Dengan bertambahnya tahun dan berganti generasi, ada kalanya tradisi yang telah dipertahankan dan dijaga dengan baik oleh para leluhur kita secara perlahan-lahan mulai luntur. Karena, pengaruh dari budaya modern yang kembang serta disukai mereka, sehingga sedikit demi sedikit, generasi mulai melupakan dan tidak meminati budaya asli tradisional daerahnya. Jika hal tersebut terus dibiarkan, maka tidak mustahil warisan asli budaya tradisional akan punah dengan cepat. Kalau bukan kita – kita yang peduli siapa lagi. Sanggar Kuala Kasih berharap kepada semua kalangan; terutama muspika Kecamatan Kuala Kampar dan Bupati Pelalawan mampu mengajak semua lapisan masyarakat untuk sama-sama menjaga tradisi dan warisan seni di Pulau Penyalai.
 
Sanggar Kuala Kasih sendiri saat ini bersekretariat di Madrasah Aliyah Al Anwar Al Amansyah Parit Mawar Teluk Dalam Kecamatan Kuala Kampar Kabupaten Pelalawan Provinsi Riau. Yayasan Sanggar Kuala Kasih didirikan oleh Roeslan K, seorang pelaku dan penggiat seni sejati asal Keacamatan Kuala Kampar, Kabupaten Pelalawan Provinsi Riau. Sejak awal berdirinya pada tahun 2000 silam, sanggar ini fokus pada menciptakan karya khususnya; Tari. Telah banyak karya diciptakan diantaranya adalah tari Merojak. Nama Tari ini diambil dari kata ‘merojak’ itu sendiri yang dalam bahasa khas Suku Asli Penyalai (suku akit) berarti ‘berburu’.
 
Selain aktif dalam berkegiatan seni, Sanggar Kuala kasih juga rutin berkegiatan sosial bersama masyarakat tempatan. Seperti pada kegiatan terbarunya, Sanggar Kuala Kasih secara berkelanjutan merapat ke masyarakat dengan tindakan pemberian paket sembako, pengabdian masyarakat dan mengadakan pementasan sederhana. Oleh karena itu siapapun dan kapan saja sangat bisa berkontribusi dalam membesarkan nama Sanggar Kuala Kasih. Mengapa? Karena sanggar ini sudah cukup memadai.(rilis)
Akses JurnalMadani.com Via Mobile m.JurnalMadani.com