Bupati Kepulauan Meranti Lounching Gerakan Nasional Orang Tua Membaca Buku

Dibaca: 657 kali  Rabu,02 Mei 2018 | 06:25:00 WIB

Bupati Kepulauan Meranti Lounching Gerakan Nasional Orang Tua Membaca Buku
Ket Foto : Bupati Kepulauan Meranti, Drs. Irwan, M.Si melounching Gerakan Nasional Orang Tua Membaca Buku

SELATPANJANG - Orang tua memiliki peran besar dalam memotivasi semangat belajar anak-anaknya. Untuk itu diperlukan peran aktif orang tua dalam mendorong aktifitas belajar siswa, khususnya pada kegiatan membaca buku.

Hal itu ditekankan Bupati Kepulauan Meranti, Drs. Irwan, M.Si, saat melounching Gerakan Nasional Orang Tua Membaca Buku, Sempena Peringatan Hari Pendidikan Nasional, di halaman Kantor Bupati Kepulauan Meranti, Rabu 2 Mei 2018.

Hadir pada kegiatan itu, Ketua DPRD Kepulauan Meranti, Fauzi Hasan, Sekretaris Daerah, Yulian Norwis, Perwakilan Kemenag Kepulauan Meranti, para Asisten Setdakab, Perwakilan Kejari Meranti, Danramil Tebing Tinggi, Para Guru dan Wali Murid.

Dalam kesempatan itu, Bupati Kepulauan Meranti Drs. Irwan M.Si meminta orang tua murid PAUD dan SD dapat lebih peduli terhadap aktifitas pendidikan anak, khususnya kebiasaan membaca buku, sehingga dapat meningkatkan kualitas wawasan dan kecerdasan anak.

"Dengan lebih pedulinya orang tua terhadap aktifitas belajar anak
diharapkan dapat meningkatkan semangat belajar anak yang pada gilirannya nanti dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan menghasilkan generasi penerus yang lebih baik dimasa yang akan datang," ujar Bupati.

Setelah dilounchingnya program Nasional orang tua membaca, Bupati berharap orang tua dapat melibatkan diri secara langsung terhadap pendidikan anak sebagai contoh saat mengerjakan tugas-tugas sekolah di rumah.

"Dengan gerakan orang tua membacakan buku kepada anak anak dan turut serta membantu anak mengerjakan tugas-tugasnya di rumah, lambat laun anak akan termotovasi dan menyadari bahwa membaca buku itu sangat penting," paparnya.

Lebih jauh dijelaskan orang nomor satu di Kepulauan Meranti itu, di tengah era modern saat ini anak-anak lebih cenderung bermain gadget, menurutnya hal itu harus digeser bagaimana anak-anak dapat kembali menyukai buku meskipun IT juga diperlukan.

Sempena Hari Pendidikan Nasional di Kepulauan Meranti kali ini, Bupati juga menyinggung kondisi daerah yang masih banyak terisolir, hal ini berdampak pula pada sulitnya anak-anak untuk menempuh sekolah yang jaraknya jauh, akibatnya anak-anak SD yang berada diseberang pulau tidak bisa melanjutkan ke SMP.

Terkait masalah tersebut, ia meminta kepada Dinas Pendidikan mengaktifkan kembali sekolah jauh, karena jika dipaksakan anak menempuh perjalanan yang jauh menuju sekolah, dikawatirkan semangat belajar akan kurang.

"Masalah yang kita hadapi saat ini terbentur pada masalah geografis daerah dan belum tersedianya infrastruktur akses yang memadai, untuk mengatasinya strategi yang kita tempuh adalah dengan mengaktifkan sekolah jauh, karena jika dipaksakan untuk mengikuti pendidikan di sekolah yang jaraknya jauh, maka akan mengurangi semangat anak yang sudah lelah duluan," jelas Bupati.

Dan guru-guru yang bertugas di sekolah jauh ini akan mengunjungi siswa yang berada di daerah-daerah yang terisolir.

Masalah pendidikan lainnya yang menjadi perhatian Bupati Kepulauan Meranti, adalah soal kesejahteraan guru-guru yang bertugas di daerah terisolir yang tak jarang menggunakan biaya sendiri untuk transportasi. Untuk masalah ini, Bupati meminta Kepala Desa di wilayah guru bersangkutan bertugas lebih pro aktif, dengan membantu melalui dana ADD.

"Disinilah diperlukan peran aktif Kepala Desa melalui Alokasi Dana Desa yang saat ini cukup besar dan sejauh ini saya kira sudah berjalan," terang Bupati.

Ditempat yang sama dalam pidato Menteri yang disampaikan oleh Sekretaris Daerah Yulian Norwis, sempena Hardiknas 2018, yang jatuh pada tanggal 2 Mei bertepatan dengan tanggal kelahiran Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (Ki Hajar Dewantoro), seorang tokoh pendidikan Nasional.

Sempena momentum itu mengajak semua elemen pendidikan untuk merenungkan hubungan erat antara pendidikan dan kebudayaan sebagaimana tercermin dalam ajaran, pemikiran dan praktik pendidikan yang dilakukan oleh Ki Hadjar Dewantara.

Peringatan Hari Pendidikan Nasional kali ini hendaknya juga menjadi momentum untuk melakukan muhasabah terhadap usaha-usaha yang telah diperjuangkan di bidang pendidikan. Sebagai landasan dalam membuat proyeksi tentang pendidikan nasional yang dicita-citakan.

Di dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Tahun 2003, BAB I, Pasal 1 ayat 2, disebutkan bahwa pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, sedangkan kebudayaan nasional merupakan akar pendidikan nasional. Di sinilah terjadinya titik temu antara pendidikan dan kebudayaan. Jika kebudayaan nasional menghunjam kuat di dalam tanah tumpah darah Indonesia, akan subur dan kukuh pulalah bangunan pendidikan nasional Indonesia.

Cita-cita pendidikan dan kebudayaan nasional hanya bisa terwujud jika semua pihak bekerja keras dan berdaya jelajah luas. Hanya dengan cara itu, kerja pendidikan dan kebudayaan dapat menjangkau seluruh wilayah Indonesia.

Apresiasi publik terhadap keberhasilan pemerintah yang gencar membangun infrastruktur harus disertai dengan pembangunan sumber daya manusia secara lebih sungguh-sungguh dan terencana. Walaupun belum sepenuhnya selesai, namun manfaatnya sudah dapat dinikmati, di antaranya semakin mempermudah kerja pendidikan dalam memperluas akses, walaupun pada saat yang sama memaksa kerja pendidikan harus sigap merespons secara positif terhadap perubahan tata nilai, sebagai dampak dari perkembangan infrastruktur tersebut. Pendidikan juga harus menyiapkan tenaga technocraft, tenaga terampil dan kreatif, yang memiliki daya adaptasi tinggi terhadap perubahan dunia kerja yang kian cepat dan memiliki kemampuan berpresisi tinggi untuk mengisi teknostruktur sesuai dengan kebutuhan.

Bersamaan dengan pembangunan Infrastuktur pendidikan dan kebudayaan, dilakukan juga penguatan sumber daya manusia (SDM) agar menjadi modal yang andal dan Siap menghadapi perubahan zaman yang melaju kencang, kompleks, tak terduga, dan multiarah. Oleh karena Itu, mulai tahun Ini Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla mencanangkan prioritas pembangunan pada penguatan SDM. Di sinilah peran dan tanggung jawab pendidikan dan kebudayaan akan semakin besar.

Guru, orang tua, dan masyarakat harus menjadi sumber kekuatan untuk memperbaiki kinerja dunia pendidikan dan kebudayaan dalam menumbuh kembangkan karakter anak-anak Indonesia. Tripusat pendidikan itu harus secara simultan menjadi lahan subur tempat persemaian nilai nilai religius, kejujuran, kerja keras, gotong-royong, dan seterusnya bagi para penerus kedaulatan dan kemajuan bangsa.

Reformasi sekolah, peningkatan kapasitas, dan profesionalisme guru, kurikulum yang hidup dan dinamis, sarana dan prasarana yang andal, serta teknologi pembelajaran yang mutakhir, menjadi keniscayaan pendidikan. Oleh karena itu, tidak bisa tidak, pendidikan harus menjadi urusan semua pihak. Semua pihak harus bergandeng tangan, bahu-membahu, bersinergi memikul tanggung jawab bersama dalam menguatkan pendidikan.

Kegiatan Hardiknas di Kabupaten Kepulauan Meranti ditutup dengan penampilan para anak anak TK Se-Kabupaten Kepulauan Meranti yang memperagakan gerakan senam, penampilan Drum Band dari Gita Mutiara Meranti SDN 02 Selatpanjang yang memukau. (rls/san)

Akses JurnalMadani.com Via Mobile m.JurnalMadani.com