Penulis: Fajar Supriyatna | Editor: Ferril Dennys
LIONEL Messi bisa menggiring bola melewati tiga pemain untuk kemudian mencetak gol.
Dia bisa mengubah ruang sempit menjadi jalan raya yang lapang untuk melesakkan bola ke gawang lawan.
Bahkan Messi bisa membuat stadion menahan napas hanya dengan satu sentuhan kaki kirinya.
Meskipun demikian, Messi tidak akan pernah bisa menjuarai Piala Dunia sendirian.
Di Piala Dunia Qatar 2022, dunia memang melihat Messi mengangkat trofi yang lama ia rindukan.
Sejarah mencatat saat itu Messi meraih Golden Ball, sementara Emiliano Martinez menjadi peraih Golden Glove dan Enzo Fernandez dinobatkan sebagai pemain muda terbaik.
Artinya, bahkan dalam kisah yang tampak seperti dongeng pribadi Messi, ada kiper yang menyelamatkan, gelandang muda yang menjaga napas permainan, pelatih yang menyusun strategi, dan rekan-rekan yang berlari ketika sang kapten mulai dikepung lawan.
Di situlah sepak bola memberi pelajaran yang sering luput dari sorotan kamera.
Kemenangan tidak pernah benar-benar lahir dari sepasang kaki saja, sekalipun kaki itu milik Messi.
Ada umpan yang membuka jalan, ada tekel yang memutus serangan, ada kiper yang menepis bola, ada pelatih yang membaca arah angin pertandingan dan ada bangku cadangan yang menjaga harapan tetap menyala.
Dari lapangan hijau kita bisa melihat satu hal sederhana: kepemimpinan bukan soal berdiri paling depan sendirian, melainkan kemampuan membuat banyak orang bergerak dalam irama yang sama.
Pemimpin boleh menjadi wajah, tetapi ia tidak boleh menjadi seluruh tubuh.
Kepala memang penting, tetapi kaki harus kuat, jantung harus berdetak dan paru-paru harus memberi napas.
Tanpa itu semua, yang tampak bukan kehidupan bersama, melainkan patung besar yang dikagumi dari jauh, tetapi tidak sanggup berjalan ke mana-mana.
Dalam sepak bola, kapten bukan pemain yang paling sering menunjuk-nunjuk, kapten adalah orang yang membuat tim tetap percaya ketika papan skor sedang jahat.
Ia tidak harus banyak bicara, kadang cukup dengan tatapan, tepukan bahu atau cara ia tetap mengejar bola meski tubuh sudah lelah membuat satu tim percaya untuk tetap berjuang di lapangan hijau.
Kepemimpinan Messi menarik karena ia tidak selalu meledak-ledak.
Dia memimpin dengan standar, membuat rekan-rekannya merasa “kalau orang sehebat ini masih mau berlari, apa alasan kami untuk berhenti?”
Dalam teori kepemimpinan transformasional, pemimpin yang baik bukan sekadar memberi perintah, tetapi mengangkat moral, motivasi dan arah bersama.
James MacGregor Burns dan Bernard Bass menjelaskan, kepemimpinan transformasional bekerja ketika pengikut tidak hanya patuh, tetapi ikut merasa memiliki tujuan.
Pemimpin seperti ini tidak hanya berkata “Ikuti saya!” tetapi membuat orang lain berkata “Ini juga perjuangan saya”.
Namun kepemimpinan tidak cukup hanya inspiratif. Ia juga harus melayani.
Robert K. Greenleaf memperkenalkan gagasan servant leadership: pemimpin yang baik adalah pemimpin yang membesarkan orang lain, membagi kuasa dan menempatkan pertumbuhan anggota sebagai bagian dari keberhasilan.
Di titik ini, Messi kembali menjadi contoh yang enak dibaca.
Ia besar, tetapi tidak membuat semua orang kecil. Di sekelilingnya, Argentina tetap punya Angel Di Maria, Rodrigo De Paul, Julian Alvarez, Enzo Fernandez, Emiliano Martinez dan Lionel Scaloni.
Messi mungkin jadi pusat gravitasi, tetapi bukan satu-satunya planet dalam satu sistem tata surya.
Begitu pula dalam organisasi, baik itu di kampus, partai politik, birokrasi, masyarakat ataupun negara.
Pemimpin yang terlalu ingin menjadi satu-satunya sumber cahaya biasanya lupa bahwa terlalu banyak cahaya dari satu titik bisa membuat orang lain silau.
Lama-lama organisasi bukan bergerak karena visi, tetapi karena takut. Semua menunggu aba-aba.
Semua menunggu restu, semua menunggu “sabda”, akibatnya regenerasi mati pelan-pelan, seperti rumput lapangan yang tidak pernah disiram karena semua orang fokus menatap papan skor.
Di sinilah pentingnya bahwa kepemimpinan harus terdistribusi. Teori distributed leadership menekankan, kepemimpinan bukan hanya milik satu figur formal, melainkan praktik bersama yang hidup dalam interaksi, pembagian peran dan saling ketergantungan.
Alma Harris menyebut kepemimpinan yang terdistribusi sebagai praktik kepemimpinan yang kolaboratif, kolektif dan saling bergantung, bukan sekedar mendistribusikan tugas.
Artinya, organisasi sehat tidak hanya melahirkan pemimpin utama, tetapi juga pemimpin-pemimpin kecil di banyak titik.
Ada yang memimpin gagasan, ada yang memimpin teknis ada yang memimpin emosi tim, bahkan ada yang menjaga moral ketika situasi sedang buruk.
Dalam sepak bola, tidak hanya ada kapten tim, ada juga pemain yang mengangkat semangat ruang ganti, pelatih yang membaca pertandingan, staf medis yang menjaga tubuh pemain dan suporter yang menjaga api keyakinan.
Kita terbang dulu ke Iran. Di sana kita bisa melihat dan belajar bahwa daya tahan sebuah sistem tidak hanya ditentukan oleh satu tokoh.
Iran mampu bertahan dalam berbagai tekanan karena memiliki jaringan institusi, elite, aparat keamanan, ideologi dan mekanisme loyalitas yang menopang kekuasaan.
Ini bukan ajakan meniru sisi represifnya tetapi kita harus jernih membedakan antara daya tahan sistem dan kualitas moral sistem.
Sebuah kajian menjelaskan bahwa di Iran, institusi ikut menopang otoritas pemimpin tertinggi dan juga mencatat posisi penting IRGC dalam struktur kekuasaan dan status quo Iran.
Pelajarannya sederhana: organisasi yang ingin bertahan harus menyiapkan lapisan.
Harus ada kaderisasi. Harus ada orang kedua, ketiga, keempat, bahkan “kesebelasan cadangan”.
Jangan sampai sebuah organisasi terlihat kuat hanya karena satu orang masih berdiri di depan mikrofon.
Begitu orang itu sakit, pergi, kalah atau pensiun, semua mendadak seperti panitia reuni yang kehilangan bendahara.
Dari Iran kita lompat ke China. China juga memberi pelajaran menarik.
Setelah era Mao Zedong yang sangat personalistik, Deng Xiaoping berusaha membangun pola kepemimpinan yang lebih kolektif dan terlembaga, antara lain melalui pembatasan masa jabatan, usia pensiun dan suksesi yang lebih teratur.
Sebuah kajian jurnal melaporkan, suksesi damai pada era Jiang Zemin dan Hu Jintao pernah menjadi sumber penting daya tahan politik China pasca Mao Zedong, meski kemudian pada era Xi Jinping terjadi kembali penguatan kekuasaan yang lebih personalistik.
Dari sana kita belajar dua hal sekaligus. Pertama, regenerasi membuat sistem tidak mudah roboh.
Kedua, regenerasi bisa mundur kalau institusi kalah oleh kultus individu. Pemimpin yang baik harus kuat, tetapi tidak boleh membuat institusi lemah.
Ia harus dihormati tetapi jangan sampai semua orang takut berpikir. Ia harus memberi arah yang benar tanpa harus menutup jalan lain.
Dalam bahasa sepak bola, pemimpin besar bukan hanya pencetak gol.
Ia juga pembuka ruang, kadang memberi assist, kadang ia jadi pengalih perhatian pemain lawan agar rekannya bebas bergerak.
Kadang ia tidak menyentuh bola sama sekali, tetapi geraknya membuat serangan menjadi mungkin ataupun pertahanan menjadi efektif.
Begitulah pemimpin sejati: keberhasilannya tidak selalu tampak pada namanya di papan skor, tetapi pada tumbuhnya kemampuan orang lain.
Kepemimpinan, akhirnya, bukan seni menjadi paling hebat sendirian.
Kepemimpinan adalah seni membuat banyak orang merasa mampu menjadi lebih baik bersama-sama.
Messi boleh menjadi legenda. Tetapi Argentina menjadi juara karena ia tidak bermain sendirian.
Begitu juga organisasi, masyarakat dan negara. Tidak cukup punya satu bintang.
Kita butuh tim yang bekerja, pelatih yang berpikir, bangku cadangan yang siap, suporter yang dewasa dan sistem yang tidak runtuh hanya karena satu orang kelelahan.
Sebab pemimpin terbaik bukanlah orang yang membuat semua mata hanya menatap dirinya.
Pemimpin terbaik adalah orang yang ketika ia tidak ada di lapangan, permainan. (*)