JURNALMADANI - Digitalisasi telah mengubah cara masyarakat memperoleh, menyebarkan, dan merespons informasi. Di satu sisi, kemajuan tersebut mendorong keterbukaan dan mempercepat arus komunikasi.
Namun, era digital juga menghadirkan tantangan berupa penyebaran informasi yang belum tentu benar. Kondisi tersebut menuntut pemerintah dan masyarakat untuk sama-sama membangun budaya literasi digital yang sehat.
Sekretaris Daerah (Sekda) Riau, Syahrial Abdi, mengatakan masyarakat saat ini sudah sangat akrab dengan media digital. Menurutnya, kecepatan masyarakat dalam merespons suatu peristiwa menjadi salah satu ciri perkembangan teknologi informasi yang tidak dapat dihindari.
"Saya rasa masyarakat kita saat ini memang sudah terlatih menggunakan media digital. Mereka sangat cepat merespons berbagai peristiwa. Bahkan ketika pelayanan kita buruk, langsung ada rekamannya. Belum sempat ditanya atau dijawab pun, rekamannya sudah tersebar duluan," kata Sekda Syahrial Abdi di Ruang Siniar Diskomimfotik Riau, Jumat (24/07/2026).
Ia menilai, fenomena tersebut menjadi tantangan bagi seluruh instansi, terutama yang memberikan pelayanan langsung kepada masyarakat. Karena itu, setiap masukan maupun kritik yang muncul harus dijadikan bahan evaluasi agar kualitas pelayanan terus meningkat.
"Tentu ini menjadi tantangan bagi siapa pun, terutama bagi di instansi pelayanan publik. Ketika tahu ada kekurangan, kita tentu terdorong untuk segera memperbaiki layanan," ujarnya.
Meski demikian, Sekda Syahrial Abdi mengingatkan pentingnya menjaga etika dalam berkomunikasi di ruang digital. Menurutnya, masyarakat hendaknya tidak terburu-buru mengambil kesimpulan hanya berdasarkan potongan informasi yang belum utuh.
"Di sisi lain, kita berharap masyarakat tetap bisa berkomunikasi secara baik dan proporsional. Kadang-kadang ada kecenderungan untuk langsung menjudge sesuatu hanya berdasarkan informasi yang sangat minim tanpa melalukan cross check," tuturnya.
Dijelaskan, minimnya kebiasaan melakukan verifikasi informasi menjadi salah satu penyebab berita hoaks menyebar di tengah masyarakat. Padahal, informasi yang tidak benar dapat memicu kesalahpahaman hingga memperburuk situasi.
"Bahkan dari sumber berita hoaks kita tidak memilah mana yang benar dan salah, serta tidak bertabayun. Akhirnya, yang muncul hanya respons dan tanggapan negatif," jelasnya.
Oleh sebab itu, ia mengajak masyarakat untuk membiasakan diri mencari informasi dari sumber yang kredibel. Karena, melakukan pengecekan fakta sebelum memberikan tanggapan maupun membagikan informasi kepada orang lain di zaman sekarang ini sangat penting dilakukan.
"Karena itu, hal penting yang perlu kita pelajari bersama sebagai masyarakat adalah berusaha menggali informasi terlebih dahulu saat melihat sesuatu. Jangan sampai begitu menerima berita hoaks, kita justru menjadi penyebar utamanya," tegasnya. (mcr)