BKKBN Ingatkan Ancaman Fatherless: Pengaruhi Psikologi Anak

Rabu, 26 November 2025 | 16:42:16 WIB

JURNALMADANI - Fenomena fatherless atau hilangnya peran ayah dalam pengasuhan anak kembali mencuat setelah data Pemutakhiran Pendataan Keluarga 2025 (PK-25) menunjukkan bahwa 25,8 persen anak Indonesia tumbuh tanpa keterlibatan ayah yang memadai. Artinya anak yang memiliki ayah, tetapi telah kehilangan sosok ayah

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga atau Kepala BKKBN RI, Dr. Wihaji, menilai kondisi ini sangat memengaruhi perkembangan psikologis serta masa depan anak.

"Ini agak lumayan butuh perhatian, tapi kalau gak hati-hati ini sangat berpengaruh terhadap psikologi, sangat berpengaruh terhadap masa depan anak," ujarnya, Rabu (26/11/25).

Wihaji melanjutkan, anak-anak berhak mendapatkan kehadiran kedua orang tua yang penuh perhatian termasuk dari sosok ayah.

Akan tetapi lanjut dia, hasil pemutakhiran pendataan keluarga tahun 2025 menunjukkan bahwa satu dari empat keluarga yang memiliki anak di Indonesia mengalami kondisi fatherless atau tumbuh dan berkembang tanpa keterlibatan sosok Ayah yang memadai dalam kehidupannya.

Terangnya, fenomena ini berpotensi menimbulkan dampak yang panjang bagi tubuh kembang anak, antara lain hambatan dalam perkembangan psikologis, kehidupan sosial, hingga keberhasilan akademik anak di masa depan.

"Angka fatherless bervariasi, menurut wilayah secara proporsi fatherless di pedesaan adalah 26,3 persen lebih tinggi dibanding perkotaan 25,4 persen, tingginya fatherless di pedesaan dipicu banyaknya ayah yang bekerja jauh dan adanya norma yang membatasi peran ayah sebagai pencari nafkah serta rendahnya literasi pengasuhan," ujarnya.

Lebih lanjut, provinsi dengan angka tertinggi fenomena fatherless terjadi di Provinsi Papua pegunungan yakni 50,2 persen dan Bali memiliki proporsi terendah dengan 15,1 persen.

Kemudian, beberapa provinsi yang memiliki kondisi fatherless yang cukup besar lainnya seperti Provinsi Sumatra Utara 30,4 persen, Sumatera Barat 28,5 persen, Jawa Barat 23,0 persen, Sulawesi Selatan 28,1 persen.

"Hal ini dipicu sulitnya akses layanan, ayah yang banyak merantau, serta budaya yang menempatkan pengasuhan pada ibu," lanjut

Diketahui, dari data PK-25 juga didapatkan bahwa fatherless juga terjadi menurut kondisi sosial ekonomi, secara umum kondisi fadherless menurun seiring meningkatnya pendidikan kepala keluarga.

Angka fatherless menurut pendidikan kepala keluarga tahun 2025 yaitu 29,5 persen kurang dari SMA, 22,0 persen SMA, dan 20,4 persen akademisi atau Perguruan tinggi.

Perbedaan angka fatherless antar tingkat pendidikan kepala keluarga relatif kecil, hal ini menandakan bahwa keterlibatan ayah lebih dipengaruhi kondisi sosial ekonomi daripada pendidikan formal.

Lebih lanjut, angka fatherless menurut status kebekerjaan kepala keluarga tahun 2024 memiliki perbedaan yang sangat mencolok, 63,0 persen angka fatherless karena tidak bekerja, dan 24,1 persen yang bekerja.

Ini menunjukkan hilangnya peran ekonomi ayah dapat menurunkan keterlibatan emosional dan meningkatkan risiko fatherless di dalam rumah.

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga berharap data dan temuan mengenai fatherless ini tidak berhenti sebagai batas statistik semata, angka-angka tersebut harus menjadi alarm kebijakan bahwa keterlibatan ayah bukan hanya isu keluarga tapi bagian dari strategi pembangunan manusia Indonesia.

"Kita perlu menggunakan data ini untuk merancang intervensi pengasuhan berbasis keluarga yang lebih terarah mulai dari peningkatan literasi pengasuhan ayah, program kerja yang ramah keluarga, hingga penguatan layanan konseling keluarga di tingkat desa dan kelurahan. Sehingga dapat mengoptimalkan keterlibatan peran ayah pada pengasuhan anak Indonesia dalam lingkungan keluarga yang kuat dan penuh kasih sayang," tutupnya. (mcr)

Terkini