Laki-laki Usia Produktif Paling Banyak Terdampak Kasus AIDS di Riau

Senin, 06 April 2026 | 16:14:05 WIB
Ilustrasi

JURNALMADANI – Kasus AIDS di Provinsi Riau hingga akhir 2025 didominasi oleh kelompok usia produktif. Sebanyak 77 persen kasus berasal dari rentang usia 25–49 tahun, yang merupakan usia aktif bekerja dan beraktivitas.

Selain itu, kelompok usia 20–24 tahun menyumbang sekitar 10 persen kasus, disusul usia di atas 50 tahun sekitar 9 persen. Sementara sisanya berasal dari kelompok usia anak-anak dan remaja.

Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Riau, dr Wildan Asfan Hasibuan, mengatakan dominasi usia produktif ini menjadi perhatian serius karena berdampak luas terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.

“Mayoritas kasus ada di usia produktif. Ini tentu menjadi alarm bagi kita semua, karena kelompok ini adalah tulang punggung keluarga,” ujarnya, Senin (6/4/2026).

Dari sisi jenis kelamin, kasus AIDS di Riau juga didominasi oleh laki-laki. Sepanjang Januari hingga Desember 2025, sekitar 88 persen kasus terjadi pada laki-laki, sedangkan perempuan hanya sekitar 12 persen.

Menurut Wildan, kondisi ini tidak lepas dari masih adanya perilaku berisiko yang lebih banyak ditemukan pada laki-laki.

“Faktor perilaku masih menjadi tantangan utama. Karena itu edukasi harus terus diperkuat, terutama kepada kelompok yang berisiko,” jelasnya.

Secara umum, jumlah kumulatif kasus AIDS di Riau hingga Desember 2025 mencapai 4.480 orang. Kota Pekanbaru menjadi daerah dengan jumlah kasus tertinggi yakni 2.746 kasus, disusul Indragiri Hilir 308 kasus dan Dumai 300 kasus. Sementara daerah dengan kasus lebih rendah antara lain Indragiri Hulu 34 kasus dan Kampar 49 kasus.

Wildan menegaskan, tingginya angka di daerah perkotaan seperti Pekanbaru juga dipengaruhi oleh tingginya mobilitas penduduk serta akses layanan kesehatan yang lebih baik, sehingga lebih banyak kasus yang terdeteksi.

Sebagai upaya penanganan dan pencegahan, KPA Riau terus menggencarkan edukasi kepada masyarakat, termasuk pentingnya perilaku hidup sehat dan pemeriksaan HIV secara dini.

“Yang paling penting itu pencegahan dan deteksi dini. Jangan takut untuk tes HIV, karena semakin cepat diketahui, pengobatan bisa segera dilakukan dan kualitas hidup tetap terjaga,” katanya.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk menghapus stigma terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHIV), karena dukungan lingkungan sangat berperan dalam proses pengobatan.

“ODHIV itu bukan untuk dijauhi. Mereka bisa hidup normal dan produktif selama menjalani pengobatan dengan baik. Dukungan dari keluarga dan masyarakat sangat penting,” tutupnya. (mcr)

Terkini