Tingginya Kasus AIDS di Pekanbaru, KPA Riau Tekankan Pentingnya Dukungan untuk ODHIV

Selasa, 07 April 2026 | 17:49:01 WIB
Ilustrasi

JURNALMADANI – Kota Pekanbaru menempati peringkat tertinggi dalam sebaran kasus AIDS di Provinsi Riau. Hingga akhir Desember 2025, jumlah kasus di ibu kota provinsi ini tercatat mencapai 2.746 kasus.

Angka tersebut jauh melampaui daerah lain, seperti Indragiri Hilir dengan 308 kasus dan Dumai sebanyak 300 kasus. Sementara itu, jumlah kasus terendah ditemukan di Indragiri Hulu dengan 34 kasus dan Kampar sebanyak 49 kasus.

Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Riau, dr. Wildan Asfan Hasibuan, menjelaskan tingginya angka kasus di Pekanbaru dipengaruhi oleh tingginya mobilitas penduduk serta akses layanan kesehatan yang lebih baik, sehingga deteksi kasus menjadi lebih optimal.

Meski angka temuan kasus tinggi, Wildan menekankan pentingnya dukungan lingkungan terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHIV). Ia mengingatkan masyarakat untuk menghapus stigma negatif agar para penderita tetap dapat hidup produktif.

“ODHIV bukan untuk dijauhi. Mereka bisa hidup normal dan produktif selama menjalani pengobatan dengan baik. Dukungan keluarga dan masyarakat sangat penting,” ujarnya.

KPA Riau mencatat mayoritas penderita adalah laki-laki dengan persentase mencapai 88 persen, yang didominasi kelompok usia produktif 25–49 tahun.

Wildan menambahkan, perilaku berisiko masih menjadi tantangan utama dalam upaya menekan angka penularan, khususnya di wilayah perkotaan. Oleh karena itu, pihaknya terus mendorong masyarakat untuk berani melakukan pemeriksaan HIV sejak dini tanpa rasa takut atau malu.

“Faktor perilaku masih menjadi tantangan terbesar. Karena itu, edukasi harus terus diperkuat, terutama bagi kelompok berisiko,” jelasnya.

Selain edukasi, pemerintah daerah melalui KPA Riau juga terus memastikan ketersediaan layanan pengobatan bagi 4.480 penderita HIV/AIDS yang tercatat di seluruh wilayah Riau. Upaya ini dilakukan untuk menjaga kualitas hidup penderita dan mencegah kondisi berkembang ke tahap yang lebih parah.

“Yang paling penting adalah pencegahan dan deteksi dini. Jangan takut untuk tes HIV. Semakin cepat diketahui, pengobatan bisa segera dilakukan dan kualitas hidup tetap terjaga,” tegas Wildan. (mcr)

Terkini