Ekspedisi Merah Putih Presisi Polda Riau Usung Semangat Jaga Lingkungan Pulau Terluar

Ahad, 16 Agustus 2026 | 18:55:17 WIB

JURNALMADANI - Upaya menjaga lingkungan sekaligus mengangkat potensi wilayah pesisir dilakukan melalui Ekspedisi Merah Putih Presisi (EMPP) Polda Riau bersama komunitas dan penggiat media sosial di Kabupaten Kepulauan Meranti.

Mengusung semangat "Bergerak Bersama Melestarikan Lingkungan, Sejahtera Merantiku dengan Green Policing", kegiatan tersebut dipusatkan di kawasan Pantai Motong, Desa Permai, Kecamatan Rangsang Barat, Minggu (16/8/2026).

 

Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Ekspedisi Merah Putih yang digelar jajaran Polda Riau dalam menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Di Meranti, kegiatan dikemas dengan pendekatan lingkungan, ekowisata, pemberdayaan masyarakat serta pemanfaatan media sosial untuk menyuarakan persoalan wilayah pesisir.

Rombongan dipimpin Wakapolres Kepulauan Meranti Kompol Detis Mayer Silitonga, S.H., didampingi Kasat Intelkam AKP Rolly Irvan, S.H., M.H., Kasat Binmas AKP Aguslan, S.H., Kasat Resnarkoba AKP Jimmy Andre, S.H., M.H., Kapolsek Tebing Tinggi AKP JA Lubis, S.H., M.H., serta sejumlah pejabat utama Polres Kepulauan Meranti.

 

Turut hadir Camat Rangsang Barat Jefri, S.IP., Kapolsek Rangsang Barat IPDA Sukardi, Kepala Desa Permai Azman, perwakilan komunitas, penggiat media sosial, serta masyarakat setempat.

Kegiatan tersebut mendapat perhatian karena dilaksanakan di kawasan pesisir yang menghadapi persoalan abrasi. Kondisi itu sekaligus menjadi pengingat bahwa persoalan lingkungan di wilayah kepulauan membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, bukan hanya mengandalkan pemerintah maupun aparat.

 

Mewakili sejumlah komunitas, Ketua Komunitas Film Daerah (Kopiah) Meranti, M Syahren atau yang akrab disapa Bang Bero, mengatakan keterlibatan komunitas dalam Ekspedisi Merah Putih Presisi merupakan bentuk kepedulian terhadap daerah sekaligus kesempatan untuk menyuarakan berbagai persoalan Meranti melalui platform digital.

“Bagi saya anak Meranti, kegiatan ini merupakan bentuk pengabdian nyata institusi Polri terhadap wilayah terluar Indonesia. Ke depan, kami siap membantu Polres tanpa syarat apapun,” ujar M Syahren.

 

Menurutnya, pemanfaatan media sosial menjadi bagian penting dalam memperkenalkan potensi sekaligus menyampaikan persoalan yang dihadapi masyarakat di wilayah pesisir.

Ia menilai kondisi abrasi yang terjadi di sejumlah wilayah Meranti perlu terus didokumentasikan dan disuarakan secara luas agar mendapat perhatian pemerintah, khususnya pemerintah pusat.

“Dengan keadaan ini kita tidak harus menyerah. Kita harus melakukan kegiatan-kegiatan inovasi agar daerah kita tetap mendapat prioritas dan perhatian dari pemerintah pusat. Kita ceritakan kondisi daerah kita kepada pemerintah pusat agar sentuhan pembangunan itu bisa hadir di kampung kita,” katanya.

 

M Syahren juga mendorong pemerintah daerah hingga pemerintahan desa memanfaatkan perkembangan teknologi digital untuk membangun citra daerah sekaligus menyampaikan berbagai kebutuhan masyarakat.

Menurutnya, ketika pembangunan fisik seperti batu pemecah gelombang atau bronjong belum sepenuhnya dapat direalisasikan karena keterbatasan anggaran, dokumentasi dan publikasi melalui media sosial dapat menjadi salah satu cara untuk memperlihatkan kondisi nyata wilayah kepada masyarakat luas dan pemerintah pusat.

 

Sementara itu, Kepala Desa Permai, Azman, menjelaskan Desa Permai merupakan hasil pemekaran dari Desa Bantar pada 2012. Desa tersebut terdiri atas tiga dusun, yakni Dusun Pelayar, Dusun Motong dan Dusun Ayun, yang kemudian dirangkai menjadi nama Permai.

Dengan jumlah pemilih sekitar 500 orang, Desa Permai terdiri dari sembilan RT, tiga RW dan tiga dusun. Secara geografis, desa tersebut berada di penghujung Kecamatan Rangsang Barat dan berhadapan langsung dengan Selat Melaka.

 

Azman mengatakan, posisi geografis tersebut membuat wilayahnya cukup rentan terhadap gelombang besar dan angin kencang yang setiap tahun mengikis garis pantai.

“Setiap tahun kami mendapat kado dari Malaysia yang sangat menyedihkan. Kado yang dikirim pada akhir tahun berupa gelombang besar dan angin kencang, sehingga mengikis bibir pantai kami sekitar 15 sampai 20 meter per tahun,” ungkap Azman.

 

Dampak abrasi, kata dia, tidak hanya mengubah kondisi garis pantai, tetapi juga perlahan mengubah jarak geografis antarwilayah yang sebelumnya menurut cerita orang tua masyarakat setempat relatif berdekatan.

Ia pun berharap pemerintah kabupaten, provinsi hingga pemerintah pusat dapat memberikan perhatian serius terhadap persoalan tersebut, terutama melalui pembangunan infrastruktur pengaman pantai.

“Tentu saja saya mewakili masyarakat Desa Permai berharap kepada pemerintah kabupaten, provinsi juga pemerintah pusat semoga bisa merealisasi batu pemecah ombak atau batu geronjong. Itu harapan kami,” ujarnya.

Di sisi lain, Wakapolres Kepulauan Meranti Kompol Detis Mayer Silitonga mengatakan Ekspedisi Merah Putih merupakan kegiatan yang digagas Kapolda Riau dan dilaksanakan seluruh jajaran Polres mulai 1 hingga 17 Agustus 2026.

Untuk tahun ini, konsep yang diangkat adalah bergerak bersama komunitas dan penggiat media sosial. Menurutnya, pola pendekatan tersebut penting karena komunitas dan media sosial memiliki peran besar dalam menyampaikan pesan kepada masyarakat.

“Kita sudah berubah cara polanya. Kita harus menggandeng penggiat media sosial dan juga komunitas-komunitas untuk bersama-sama menyuarakan kamtibmas, abrasi, menjaga lingkungan ataupun keamanan lingkungan. Itu bisa kita lakukan melalui media sosial,” kata Detis.

 

Ia menyebut media sosial menjadi salah satu sarana tercepat dalam menyebarkan informasi. Karena itu, Polres Kepulauan Meranti akan terus membangun kolaborasi dengan komunitas dan penggiat media sosial dalam berbagai kegiatan yang menyentuh kepentingan masyarakat.

Untuk kegiatan di Desa Permai, konsep yang dipilih adalah ekowisata pulau terluar. Pemilihan lokasi tersebut bukan tanpa alasan, mengingat Pantai Motong memiliki potensi sebagai destinasi wisata lokal sekaligus berada di wilayah yang menghadapi persoalan abrasi.

Detis menjelaskan terdapat sejumlah tujuan yang ingin dicapai melalui kegiatan tersebut. Pertama, mendorong konservasi agar lingkungan tetap terjaga dan lestari.

“Alam ini adalah titipan anak cucu, bukan punya kita. Jadi perlunya kita melaksanakan kegiatan ini agar masyarakat bisa bersama-sama menjaga alam tetap lestari,” jelasnya.

Tujuan kedua adalah memberikan edukasi kepada masyarakat dan wisatawan mengenai pentingnya menjaga ekosistem pesisir, termasuk keberadaan mangrove yang berperan dalam menjaga keseimbangan alam, habitat ikan serta membantu mengurangi dampak abrasi.

Selanjutnya, kegiatan tersebut diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui pengembangan ekowisata. Jika kawasan wisata berkembang, masyarakat sekitar diharapkan dapat mengambil peluang melalui UMKM, usaha kuliner, maupun berbagai aktivitas wisata lainnya.

Selain lingkungan dan ekonomi, aspek budaya juga menjadi bagian dari kegiatan. Nilai-nilai budaya Melayu ditampilkan melalui tari penyambutan, silat, kompang dan berbagai pertunjukan tradisional. Rangkaian kegiatan juga akan ditutup dengan penampilan barongsai sebagai simbol keberagaman dan kebersamaan.

Detis menegaskan bahwa menjaga lingkungan tidak dapat dibebankan kepada kepolisian seorang diri. Persoalan tersebut membutuhkan keterlibatan pemerintah, instansi terkait, komunitas dan masyarakat.

“Kami harap kerjasamanya. Tolong kita saling membantu dan bahu-membahu masalah lingkungan ini. Bukan hanya tugas kepolisian, juga tugas pemerintah daerah dan instansi lainnya. Yang paling penting didukung masyarakat,” tegasnya.

Ia menambahkan, keterlibatan tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda dan berbagai elemen lainnya menjadi kunci agar upaya pelestarian lingkungan dapat berjalan secara berkelanjutan.

“Kalau kami bekerja sendiri, tidak akan bisa. Kalau kami bekerja berdua juga tidak akan bisa. Bekerja bertiga juga tidak akan bisa. Tapi kalau bekerja bersama-sama, kita bisa menjaga kelestarian alam,” pungkasnya.

Melalui Ekspedisi Merah Putih Presisi tersebut, Polres Kepulauan Meranti tidak hanya membawa pesan kemerdekaan, tetapi juga mengajak masyarakat melihat persoalan lingkungan sebagai tanggung jawab bersama. (rls)

Terkini