KUALA LUMPUR – Gugus Tugas Khusus Malaysia untuk investigasi dugaan korupsi pada skandal 1MDB bertemu dengan pejabat Biro Penyelidik Federal FBI dan Kementerian Kehakiman Amerika Serikat.
Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, membentuk Gugus Tugas ini pada pekan lalu untuk mengungkap kasus dugaan korupsi dana 1MDB, yang diperkirakan mencapai miliaran dolar atau puluhan triliun rupiah.
1MDB merupakan singkatan dari 1 Malaysia Development Berhad, yang merupakan lembaga investasi pelat merah pemerintah Malaysia dan dibentuk di era pemerintahan bekas Perdana Menteri Najib Razak pada 2009.
Skandal kasus ini mencuat sejak 2015 dan menyeret nama sejumlah pejabat Malaysia termasuk mantan Perdana Menteri Najib Razak. Pada pekan ini, Najib telah diperiksa dua kali oleh KPK Malaysia.
Pertemuan Gugus Tugas dengan FBI dan Kementerian Kehakiman AS ini berlangsung di kawasan pusat pemerintahan Malaysia, Putrajaya, pada Kamis, 24 Mei 2018 lalu.
Pertemuan ini membahas tiga poin yaitu arah dan fokus investigasi skandal 1MDB, kerja sama hukum dalam penanganan kasus kriminal dan proses pengembalian aset yang telah dibekukan di AS.
"Pertemuan untuk saling kerja sama akan digelar dari waktu ke waktu," begitu pernyataan yang dilansir Gugus Tugas ini seperti dilansir tempo.co dari media Channel News Asia pada Kamis, 24 Mei 2018.
Gugus Tugas ini terdiri dari bekas Jaksa Agung, Abdul Gani Patail, bekas Ketua KPK Malaysia atau Malaysian Anti-Corruption Commission, Abu Kassim Mohamed, Ketua MACC Shukri Abdull, dan Direktur Cabang Khusus Federal Hamid Bador.
Salah satu topik bahasan rapat kemarin adalah soal surat permintaan informasi dari FBI kepada MACC, dan belum dijawab ketua saat itu Dzulkifli Ahmad, yang sekarang digantikan Shukri.
Rapat juga membahas soal permintaan kerja sama hukum oleh Kementerian Kehakiman AS kepada Jaksa Agung Apandi Ali pada September 2017, yang juga belum terjawab hingga kini.
Pada tahun lalu, pejabat Malaysia mengatakan permintaan kerja sama itu belum diterima karena akan mengganggu proses investigasi yang sedang berlangsung. Belakangan, otoritas penegak hukum Malaysia menyatakan tidak ada masalah dengan dugaan penyalahgunaan uang 1MDB.
"FBI dan Kementerian Kehakiman AS menyatakan apresiasi setinggi-tingginya atas kerja sama yang ditunjukkan oleh pemerintahan Malaysia di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Mahathir Mohamad setelah tidak adanya tindakan dari pemerintahan sebelumnya," begitu bunyi pernyataan dari Gugus Tugas.
Rapat ini berlangsung bersamaan dengan proses pemeriksaan kedua Najib Razak di Kantor MACC. Seusai diperiksa selama sekitar enam jam, Najib mengatakan, "Petugas bersikap profesional dalam pemeriksaan", Dia mengaku mendapat jatah istirahat selama sekitar 40 menit saat pemeriksaan berlangsung.
Polisi Malaysia telah menyita sejumlah uang berjumlah lebih dari 100 juta ringgit atau sekitar 400 miliar rupiah dari rumah dan apartemen yang terkait dengan Najib Razak. Uang dan perhiasan ini tersimpan di 72 tas berbagai ukuran. Petugas juga menyita 284 tas mewah yang diduga milik istri Najib yaitu Rosmah Mansor. Polisi mengatakan penyitaan ini terkait investigasi skandal 1MDB. (red)
Malaysia Gandeng FBI Telusuri Aliran Dana Skandal 1MDB
Redaksi
Sabtu, 26 Mei 2018 - 03:38:00 WIB
Pertemuan Gugus Tugas Khusus Malaysia dengan pejabat Biro Penyelidik Federal FBI dan Kementerian Kehakiman Amerika Serikat
Pilihan Redaksi
IndexPanggilan Sidang I Pengadilan Agama Selatpanjang Kepada A Eng binti Tjing Ong
Wabup Muzamil Tinjau Sejumlah Infrastruktur di Pulau Merbau
Panggilan Sidang I Pengadilan Agama Selatpanjang Kepada Sutrisno bin Nasrun
DPP PBB Dukung DIR, Buka Peluang Komunikasi LAM Riau dengan Menko Yusril
Permenkomdigi 7/2026: Mengaktifkan Nomor HP Wajib Rekam Wajah
KPK Ubah Aturan Soal Gratifikasi, Ini Poin-poinnya
Tulis Komentar
IndexBerita Lainnya
Index Internasional
Prabowo Tandatangani Piagam Dewan Perdamaian Gaza Bentukan Trump
Kamis, 22 Januari 2026 - 19:50:21 Wib Internasional
Melonjak, 1.440 WNI Korban 'scam' Datangi KBRI Phnom Penh dalam 5 Hari
Kamis, 22 Januari 2026 - 18:24:05 Wib Internasional
Indonesia dan Inggris Sepakat Bangun 1.582 Kapal Nelayan, Butuh 600.000 Naker
Kamis, 22 Januari 2026 - 16:54:17 Wib Internasional
Januari 2026, Sudah Ada 375 WNI Terjaring Sindikat Penipuan Kamboja
Selasa, 20 Januari 2026 - 21:04:10 Wib Internasional

.jpg)