BPS: Ada Tren Positif Produksi Padi Kepulauan Meranti

Dibaca: 543 kali  Selasa,16 Maret 2021 | 03:37:00 WIB

BPS: Ada Tren Positif Produksi Padi Kepulauan Meranti
Ket Foto : Koordinator Fungsi Statistik Produksi BPS Kabupaten Kepulauan Meranti, Mujahid Rasyid

MERANTI - Produksi padi di Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, mengalami peningkatan pada Tahun 2020 lalu. Tren positif itu berdasarkan rilis resmi statistik yang disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau pada tanggal 1 Maret 2021 lalu.
 
Koordinator Fungsi Statistik Produksi BPS Kabupaten Kepulauan Meranti, Mujahid Rasyid melalui rilisnya kepada jurnalmadani.com mengungkapkan, produksi padi di Kabupaten Kepulauan Meranti pada tahun 2020 adalah 4.890,91 ton GKG (Gabah Kering Giling).
 
Dikatakannya, angka tersebut mengalami kenaikan 1,19 persen jika dibandingkan dengan produksi padi pada tahun 2019. Salah satu faktor utama penyebab kenaikan produksi padi adalah kenaikan luas panen dimana tahun 2020 luas panen adalah 1.750,10 hektare.
 
"Naik 3,81 persen atau setara dengan 64,17 hektare dibandingkan tahun sebelumnya. Tren positif kenaikan produksi padi tersebut juga berlanjut pada tahun 2021," ungkap Mujahid.
 
Masih bersumber dari data yang sama, angka sementara produksi padi pada subround I 2021 (Jan-April) meroket 5.565.09 ton GKG. Angka tersebut naik sebesar 29.95 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2020 atau naik sekitar 1.282,65 ton GKG.
 
Faktor utama kenaikan produksi padi masih sama dengan tahun sebelumnya yaitu terjadinya peningkatan luas panen dimana pada tahun 2021 terdapat luas panen 2.077,52 hektare atau naik 478,83 hektare dari tahun 2020.
 
Produksi Padi Kabupaten Kepulauan Meranti 2019 – 2021
 
Meningkatnya produksi padi di Kabupaten Kepulauan Meranti dalam dua tahun terakhir tentunya disisi pemerintah terutama dinas terkait menjadi prestasi yang patut dibanggakan. Artinya berbagai upaya yang telah dilakukan dalam beberapa tahun terakhir untuk meningkatkan produksi padi telah membuahkan hasil yang signifikan.
 
"Hal berat berikutnya yang menjadi beban pemerintah adalah bagaimana mempertahankan dan meningkatkan prestasi yang telah dicapai. Tentunya bukan hal mudah untuk terus mampu mempertahankan dan meningkatkan prestasi. Semua pihak harus terus berupaya dan bekerja keras untuk mengulang prestasi tersebut. Upaya peningkatan produksi merupakan upaya simultan dan berkelanjutan dimana pemerintah sebagai leader dari usaha tersebut harus terus berupaya keras dalam tujuan pemenuhan kebutuhan pangan yang merupakan kebutuhan dasar bagi seluruh masyarakat," ujarnya.
 
Setidaknya, lanjut Mujahid, ada empat faktor yang mesti menjadi perhatian pemerintah dalam upaya peningkatan produksi padi untuk beberapa tahun kedepan. Pertama, memaksimalkan penggunaan luas baku sawah. Berdasarkan tren kenaikan produksi padi maka luas panen merupakan faktor utama terjadinya kenaikan produksi. Artinya untuk kembali meningkatkan produksi padi peningkatan luas tanam menjadi salah satu solusinya.
 
Jika diambil dari pendekatan luas panen maka pada tahun 2021 lahan baku sawah di Kabupaten Kepulauan Meranti baru termaksimalkan 60.45% dari total luas baku sawah yang tersedia atau masih terdapat seluas lebih kurang 1.358 hektare yang bisa dimanfaatkan untuk menambah luas panen.
 
"Jika separuh dari lahan yang tidak termaksimalkan tersebut bisa menambah luas panen yag telah ada pada tahun berikutnya maka diperkirakan penambahan produksi padi bisa mencapai lebih dari 1000 ton GKG," jelasnya.
 
Faktor berikutnya adalah upaya peningkatan indek pertanaman. Berdasarkan data panen padi pada tahun 2019 dan 2020, panen raya terjadi pada subround I yaitu pada rentang Januari sampai dengan April. Sedangkan pada bulan bulan yang lain produksi cenderung rendah dan bahkan tidak terdapat produksi. Salah satu penyebab rendahnya indek pertanaman di Kabupaten Kepulauan Meranti adalah strata sawah tadah hujan yang hanya memungkinkan petani untuk bercocok tanam dimusim hujan.
 
"Pemerintah dalam hal ini haruslah menghadirkan solusi nyata sehingga petani mampu meningkatkan intensitas dalam bercocok tanam. Peningkatan indek pertanaman akan menjadi salah satu pilihan dalam upaya mendongkrak angka produksi padi yang signifikan," harapnya.
 
Faktor ketiga yang harus menjadi perhatian pemerintah adalah upaya peningkatan produktifitas padi. Produktivitas padi Kabupaten Kepulauan Meranti tahun 2020 adalah 2,79 ton/hektare, angka tersebut masih jauh dibawah angka produktivitas padi Riau yang berada pada angka 3,76 ton/hektare.
 
Meningkatnya angka produktivitas akan secara langsung berpengaruh positif terhadap kenaikan angka produksi padi. Beberapa upaya peningkatan produktivitas padi diantaranya dengan melakukan edukasi dan pendampingan secara berkelajutan kepada para petani. Pemberian edukasi sangatlah penting mengingat kondisi sebagian besar petani berpendidikan tergolong rendah dan sebagian masih bercocok tanam secara tradisional.
 
Selain itu pemberian edukasi juga sangat penting mengingat kondisi tanah pada lahan persawahan yang umumnya memiliki kadar asam tinggi sehingga memerlukan treatment khusus.
 
Faktor berikutnya adalah pemberian subsidi kepada para petani. Pemberian subsidi ini sesungguhnya merupakan faktor kunci dari ketiga faktor sebelumnya. Pemberian subsidi adalah bukti nyata perhatian pemerintah kepada para petani. Pemberian subsidi diharapkan akan mampu memberikan stimulan kepada para petani yang pada akhirnya akan mampu meningkatkan produktifitas melalui intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian yang sudah menjadi program pemerintah.
 
"Kemudian dalam prakteknya, penyaluran subsidi harus diperhatikan secara seksama agar tepat waktu, tepat guna dan tepat sasaran. Disisi lain Subsidi juga akan sangat membantu petani mengingat masih tergolong rendahnya pendapatan petani tanaman pangan yang tercermin dari Nilai Tukar Petani (NTP) tanaman pangan Riau yaitu 100.27 per Desember 2019," terang Mujahid. (rls/san)
Akses JurnalMadani.com Via Mobile m.JurnalMadani.com