JURNALMADANI - Transformasi digital dan pergeseran pola konsumsi masyarakat dari belanja konvensional ke digital telah memunculkan tantangan signifikan bagi kelangsungan usaha pedagang pakaian di pasar tradisional.
Para pedagang busana konvensional (pasar tradisional) saat ini menghadapi tantangan yang berat akibat pergeseran perilaku konsumen ke belanja daring (online).
Tantangan ini sering kali berdampak pada penurunan drastis omzet hingga mengancam keberlangsungan usaha.
Strategi yang dilakukan pedagang di Sukaramai Trade Centre, Pekanbaru dalam mempertahankan usahanya yaitu di antaranya melakukan pembaruan usaha mengikuti tren model terbaru, meningkatkan pelayanan pada pembeli.
Selain ketiga strategi tersebut, para pedagang juga mengandalkan modal sosial yang mereka miliki seperti kepercayaan, normal sosial, dan strategi jaringan.

Namun, untuk tetap bertahan, pedagang konvensional sering kali harus mengadopsi model hybrid (kombinasi toko fisik dan online), meningkatkan pelayanan ramah (pengalaman belanja langsung), serta memanfaatkan modal sosial (kepercayaan pelanggan lokal).
Di tengah maraknya penjualan online, para pedagang pakaian di Sukaramai Trade Center, Pekanbaru, tetap optimis menjalankan usahanya. Murningsih, salah satu pedagang yang sudah lebih dari 10 tahun berjualan di pasar tersebut, mengatakan bahwa penjualan pakaian di pasar tradisional masih cukup stabil.

Menurut Murningsih, dalam sehari ia dapat menjual pakaian senilai Rp750 rupiah dengan keuntungan bersih sekitar Rp500 ribu. Meskipun penjualan online lebih banyak diminati oleh masyarakat, ia yakin dapat terus mempertahankan para pelanggan dan meningkatkan penjualannya di pasar tradisional dengan pelayanan yang terbaik.
“Alhamdulillah penjualan kami masih normal seperti biasa, sehari saya bisa menjual baju senilai Rp750 ribu dengan Rp500 ribu. Terlebih pada saat lebaran kemarin, alhamdulillah-nya untung yang didapat jauh dari modal yang saya keluarkan, bisa dua hingga tiga kali lipat dari biasanya,” ungkap Murningsih yang kerap di panggil Bu Mur, pada Sabtu (4/4/2026).
Baginya, untuk beradaptasi dengan pergeseran perilaku konsumen ke belanja daring tidaklah begitu sulit. Sebagai penjual pakaian dan pedagang, ia merasa bahwa beradaptasi ditengah tantangan persaingan digital perlu dilakukan agar tidak ketinggalan zaman. Sebab, jika siap berubah, maka siapa pun bisa bangkit dan bersaing.
“Ya tentunya kita perlu beradaptasi, jika dulu kita berjualan hanya face to face atau tawar menawar secara langsung ya bagi saya dengan adanya platform digital ini tentu lebih memudahkan kita untuk menjangkau pasar lebih luas lagi,” terangnya.
“Selain itu, untuk penjualan online melalui platfrom digital seperti Shoppe, Tiktok juga sudah saya lakukan. Jadi, saya rasa dengan penjualan online dan offline ya tentunya bisa meraup keuntungan lebih banyak lagi,” tambah Mur.
Langkah adaptasi dari belanja konvensional ke digital ini bisa dimanfaatkan lewat live streaming melalui platform digital yang dianggap penting, karena pasar tradisional memiliki keunggulan fisik yang tidak dimiliki toko daring, seperti konsumen bisa melihat kualitas barang, mencoba ukuran dan memastikan kesesuaian produk secara langsung.
“Keunggulan ini harus terus dipromosikan dan dipertahankan demi membangun kembali kepercayaan masyarakat sehingga pasar tradisional bisa kembali ramai dan tidak hilang ditelan waktu,” imbuhnya. (mcr)

.jpg)