Terancam Punah, Di Bagansiapiapi, Burung Punai Rp7.500/Ekor

Dibaca: 211 kali  Kamis,16 Mei 2019 | 05:50:00 WIB

Terancam Punah, Di Bagansiapiapi, Burung Punai Rp7.500/Ekor
Ket Foto : : Pedagang burung Punai. F Amran

ROHIL - Mungkin masih ada yang belum pernah mengkonsumsi Burung Punai  (green pigeon). Namun di Kota Bagansiapiapi, dan di berbagai kecamatan di Kabupaten Rohil, banyak yang sudah terbiasa mengkonsumsi burung ini.  Daging burung, yang umumnya berbulu warna hijau tersebut biasa dikonsumsi sebagai lauk. 
 
Diolah sebagai Burung Punai goreng, Burung Punai sambal, Burung Punai gulai, dan lain-lain. Rasa daging Burung Punai ini juga manis. Sebab itu, pengkonsumsi Burung Punai juga banyak. Setidaknya, ada tiga jenis Burung Punai yang biasa dijual pedagang di sekitar Kota Bagansiapiapi, yakni Burung Punai Kecil (T. Olax Temminck), Punai dada jingga (T. Bicincta Jerdon),  dan Punai tanah (Chalcophaps indica L).
 
Di Kota Bagansiapiapi, harga satu ekor burung, yang bersaudara dekat dengan Burung Merpati atau Burung Dara tersebut, Rp7.500/ekor, naik Rp2.500/ekor di banding tahun lalu, yang hanya Rp5.000/ekor. Tapi ada juga pedagang yang menjual Rp15.000 untuk dua ekor burung, dan Rp20.000 untuk tiga ekor burung. 
 
"Burung Punai ini kita beli dari para pencari burung. Mereka menangkapnya dengan menggunakan jaring, dan ada pula yang mengunakan getah pohon. Burung ini masih banyak di sekitar kawasan hutan dan disekitar ladang," kata Wak Tono, warga Kelurahan  Bagan Punak, Senin, 13 Mei 2019 di Kota Bagansiapiapi. 
 
Burung Punai ini, kata Wak Tono, hidup secara bergerombol. Burung pemakan buah-buahan dan biji-bijian ini biasa keluar sarang mencari makan sekitar pukul 08.00 WIB - 09.00 WIB, dan mulai kembali ke sarang sekitar pukul 16.00 WIB - 17.00 WIB.  Di saat berterbangan itulah, jelas Wak Tono, pemburu burung menebar jaring. Burung yang terbang dari dan ke sarang terjerat di jaring. Meski jumlah Burung Punai tiap kelompok mencapai ratusan ekor, dari penjelasan Wak Tono, populasi Burung Punai bakalan terancam menuju kepunahan. Sebab, tak hanya burungnya, pemburu burung juga mengincar telurnya, yang juga tak kalah lezat. 
 
"Burung ini bersarang di ranting-ranting di atas pepohonan. Sarangnya dari ranting-ranting pohon Di sarang itu burung meletakkan telurnya. Jadi selain Burung Punai, yang diambil pemburu juga telurnya. Burung Punai juga tidak tiap bulan ada yang jual," ujar Wak Tono. (Amran)
Akses JurnalMadani.com Via Mobile m.JurnalMadani.com