Bukan Sekadar Lomba, Belompat di Atas Tual Sagu Jadi Ikon Budaya Kepulauan Meranti

Sabtu, 26 September 2026 | 13:24:42 WIB

JURNALMADANI – Tradisi unik masyarakat Kepulauan Meranti, Riau, kembali dihidupkan melalui Festival Lari di Atas Tual Sagu dan Lomba Masak Berbahan Dasar Sagu Tahun 2026.

Kegiatan yang digelar di Suak, Desa Banglas, Sabtu (26/9/2026), tersebut dibuka secara resmi oleh Bupati Kepulauan Meranti AKBP (Purn.) H. Asmar.

Festival ini tidak sekadar menghadirkan perlombaan, tetapi menjadi ruang untuk menghidupkan kembali tradisi masyarakat sekaligus memperkenalkan sagu sebagai bagian penting dari sejarah, budaya, dan identitas masyarakat Kepulauan Meranti.

Dalam kegiatan tersebut, Bupati H. Asmar didampingi Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Kepulauan Meranti Hj. Ismiatun Asmar, Wakil Ketua DPRD Meranti Jack Ardiansyah, Ketua Umum DPH LAMR Kepulauan Meranti Datuk Seri Afrizal Cik, para camat se-Kabupaten Kepulauan Meranti, Kepala Desa Banglas Abdul Zaid, serta sejumlah tokoh masyarakat dan tokoh agama.

 

Festival tersebut digagas warga Desa Banglas, Armizan, melalui koordinasi dengan Kementerian Pariwisata RI. Pelaksanaannya mendapat dukungan dari Pemerintah Desa Banglas serta sejumlah pihak di Kabupaten Kepulauan Meranti.

Dalam sambutannya, Bupati H. Asmar mengapresiasi seluruh pihak yang telah menggagas dan mendukung festival tersebut. Menurutnya, kegiatan seperti ini penting untuk memperkenalkan kembali warisan budaya daerah, terutama kepada generasi muda.

“Saya mendukung penuh atas terselenggaranya acara ini, karena momentum ini memberikan ruang kepada kita semua untuk mengenal jati diri, merawat warisan leluhur, sekaligus memperkenalkan kekayaan daerah kepada generasi penerus dan masyarakat luas,” ujar Asmar.

 

Ia mengatakan, bagi masyarakat Kepulauan Meranti, sagu tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga berkaitan erat dengan kehidupan, sejarah, budaya, dan identitas masyarakat.

Karena itu, Asmar menilai tradisi lari di atas tual sagu memiliki nilai budaya yang perlu dipertahankan. Tradisi tersebut tidak hanya mengandung unsur permainan rakyat, tetapi juga keterampilan, keberanian, keseimbangan, kebersamaan, serta menggambarkan kehidupan masyarakat pesisir yang sejak dahulu hidup berdampingan dengan alam.

“Tradisi seperti inilah yang harus kita jaga. Jangan sampai anak cucu kita kelak hanya mengenal budaya daerah dari buku atau cerita, tetapi tidak pernah melihat, merasakan, dan mempraktikkannya secara langsung,” katanya.

Menurut Asmar, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti akan terus mendorong agar kekayaan budaya lokal tidak hanya dilestarikan, tetapi juga dikembangkan menjadi salah satu kekuatan daerah.

 

Ia mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk memiliki kebanggaan terhadap budaya daerah dengan mengenali tradisi, mempelajari sejarah, serta menjaga nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

“Mari kita jadikan kegiatan ini bukan hanya sebagai perlombaan, tetapi sebagai momentum untuk memperkuat kebersamaan dan memperkenalkan Kepulauan Meranti sebagai daerah yang memiliki kekayaan budaya yang unik, hidup, dan bernilai,” ujarnya.

Kepada para peserta lomba lari di atas tual sagu, Asmar berpesan agar seluruh peserta menjunjung tinggi sportivitas, keselamatan, dan kebersamaan selama perlombaan.

“Menang dan kalah adalah bagian dari perlombaan, tetapi menjaga persaudaraan adalah kemenangan yang sesungguhnya,” tegasnya.

Ia berharap tradisi tersebut dapat terus diwariskan kepada generasi berikutnya sehingga keberadaan budaya lokal tidak terputus oleh perkembangan zaman.

“Marilah kita rawat budaya, kita hidupkan tradisi, kita kuatkan identitas, dan kita majukan Kepulauan Meranti. Saya yakin daerah yang kuat bukan hanya daerah yang maju secara ekonomi, tetapi juga daerah yang teguh memegang akar budayanya,” pungkas Asmar.

Tinjau Olahan Sagu

Usai membuka festival, Bupati H. Asmar bersama Ketua DWP Kepulauan Meranti Hj. Ismiatun Asmar meninjau sejumlah stan Lomba Masak Berbahan Dasar Sagu.

Asmar terlihat mencicipi berbagai olahan yang disajikan para peserta. Ia mengapresiasi kreativitas masyarakat dalam mengolah sagu menjadi beragam jenis makanan.

Menurutnya, kegiatan tersebut penting untuk memperkenalkan keragaman pangan berbasis komoditas lokal sekaligus mendorong masyarakat melihat sagu tidak hanya sebagai bahan pangan tradisional, tetapi juga sebagai komoditas yang dapat dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai tambah.

 

Ia berharap keterampilan dan pengetahuan mengolah sagu terus diwariskan kepada generasi muda sehingga tradisi kuliner dan budaya masyarakat Meranti tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

“Belompat di Atas Tual Sagu”

Sementara itu, Kepala Desa Banglas Abdul Zaid mengatakan festival tersebut mengangkat tradisi masyarakat yang dalam bahasa Melayu dikenal sebagai “belompat di atas tual sagu”.

Menurutnya, Desa Banglas merupakan salah satu kawasan yang memiliki perkebunan sagu cukup luas di Kabupaten Kepulauan Meranti. Karena itu, pelaksanaan festival memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan masyarakat setempat.

Zaid mengapresiasi inisiatif Armizan yang telah menggagas dan mengupayakan festival tersebut hingga memperoleh dukungan dari pemerintah pusat.

Ia berharap kegiatan tersebut dapat dilaksanakan secara berkelanjutan pada tahun-tahun mendatang. Bahkan, menurutnya, desa-desa lain di Kepulauan Meranti dapat mengembangkan kegiatan serupa dengan mengangkat potensi budaya masing-masing.

“Festival ini diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi berkembang menjadi agenda pelestarian budaya sekaligus promosi potensi daerah secara berkelanjutan,” ujarnya.

 

Sagu Jadi Penopang Ekonomi Warga

Lebih lanjut, Zaid menyoroti besarnya potensi ekonomi sagu bagi masyarakat Desa Banglas. Ia menyebut, sejak dahulu sagu telah menjadi bagian dari kehidupan sekaligus sumber penghidupan masyarakat setempat.

“Dulu sagu ini mungkin kurang mendapat perhatian, tetapi sekarang memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Bahkan, masyarakat yang sudah lanjut usia masih bisa memenuhi kebutuhan keluarganya dari hasil kebun sagu,” ungkapnya.

Menurut Zaid, kondisi tersebut menunjukkan bahwa perkebunan sagu memiliki nilai ekonomi sekaligus nilai sosial dan budaya yang penting bagi masyarakat.

Karena itu, ia mengajak masyarakat menjaga dan mengembangkan perkebunan sagu sebagai aset ekonomi jangka panjang, sekaligus mempertahankan warisan yang telah diwariskan secara turun-temurun.

 

Zaid juga menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti, Bupati beserta organisasi perangkat daerah terkait, Forkopimda, serta pemerintah pusat yang telah memberikan dukungan terhadap pelaksanaan festival.

Ia berharap Festival Lari di Atas Tual Sagu dan Lomba Masak Berbahan Dasar Sagu dapat terus berkembang. Bukan hanya menjadi hiburan masyarakat, tetapi juga menjadi ruang pelestarian budaya, penguatan identitas daerah, pengembangan kreativitas masyarakat, serta promosi potensi sagu Kepulauan Meranti kepada masyarakat yang lebih luas.

Dengan demikian, “belompat di atas tual sagu” tidak berhenti sebagai permainan tradisional, tetapi dapat menjadi salah satu cerita budaya yang memperkuat citra Kepulauan Meranti sebagai daerah penghasil sagu sekaligus daerah yang memiliki kekayaan tradisi Melayu yang hidup di tengah masyarakat. (*)

Terkini