Wamenkomdigi Ingatkan Bahaya Konten Sintetis AI yang Kian Sulit Dibedakan dari Realitas

Senin, 09 Februari 2026 | 17:20:15 WIB
Wamenkomdigi Nezar Patria menyampaikan Keynote Speech dalam acara GNI UPDATE Empowering Indonesia's News Ecosystem di Hotel Aston Serang, Banten, Minggu (08/02/2026). Foto: Ardi W/Komdigi

JURNALMADANI - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menegaskan jurnalisme memiliki peran kunci menjaga keaslian informasi publik di tengah banjir konten sintetis berbasis kecerdasan artifisial yang kian sulit dibedakan dari peristiwa nyata. Ia menyampaikan, perkembangan AI telah mengubah lanskap industri media dan pola konsumsi informasi masyarakat.

Foto, video, dan teks hasil rekayasa kini beredar luas di platform digital dan media sosial. Kondisi ini membuat publik rentan terkecoh, termasuk kelompok yang sudah melek digital.

“Konten sintetis hari ini sangat mirip dengan aslinya. Bahkan orang yang terlatih pun bisa keliru. Di situ publik membutuhkan jurnalisme yang bekerja dengan disiplin verifikasi,” ujar Wamen Nezar dalam Forum Kolaborasi Dewan Pers dan Google News Initiative di Serang, Banten, Minggu (08/02/2026).

Menurutnya, masalah utama di era digital bukan lagi kelangkaan informasi, tetapi krisis kepercayaan. Algoritma dan sistem personalisasi membuat publik melihat realitas yang terfragmentasi, sesuai preferensi masing-masing, bukan gambaran utuh peristiwa.

“Informasi hari ini melimpah. Yang justru langka adalah kepercayaan. Dan kepercayaan itu hanya bisa dijaga oleh jurnalisme yang berintegritas,” tegasnya.

Wamen Nezar menekankan bahwa AI tidak memiliki insting verifikasi karena teknologi hanya bekerja jika diperintah. Tanpa kendali manusia, AI tidak bisa memastikan apakah sebuah informasi otentik atau sekadar simulasi.

“AI tidak akan melakukan verifikasi kalau tidak diminta. Disiplin verifikasi inilah yang membedakan jurnalisme profesional dengan konten otomatis,” katanya.

Ia menegaskan pemanfaatan AI di industri media harus ditempatkan sebagai alat bantu produksi, bukan pengambil keputusan editorial. Manusia harus tetap menjadi pusat dalam menentukan kebenaran, konteks, dan dampak informasi bagi publik.

“Jurnalisme adalah layanan publik. Di tengah dominasi algoritma dan AI, keberpihakan pada kebenaran dan hak warga tidak boleh hilang,” tegas Wamenkomdigi Nezar Patria.

Dalam konteks kebijakan, Wamen Nezar menyatakan pemerintah mendukung pembangunan ekosistem media yang sehat. Ekosistem ini melibatkan jurnalis, industri media, dan platform digital agar jurnalisme berkualitas dapat bertahan secara ekonomi dan tetap melayani kepentingan warga.

Wamen Nezar juga menyinggung pembelajaran dari media global seperti New York Times yang mampu bertahan di tengah disrupsi teknologi dengan menjaga kualitas jurnalistik. Publik, menurutnya, terbukti bersedia membayar bukan sekadar untuk berita, tetapi untuk kredibilitas. (mcr)

Terkini