Setelah Haifa, Target Tel Aviv dan Negara Teluk Dibuat Hancur Gelombang Rudal Iran

Selasa, 24 Maret 2026 | 20:13:14 WIB
Dampak serangan rudal Iran di salah satu Kota di Israel

JURNALMADANI - Ketegangan perang di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran meluncurkan gelombang baru serangan rudal ke wilayah Israel, di saat yang sama Teheran membantah keras klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait adanya pembicaraan untuk mengakhiri konflik.

Serangan terbaru tersebut menargetkan sejumlah wilayah strategis di Israel dan memicu sirene peringatan di berbagai kota. Seperti diberitakan oleh Outlook India, gelombang rudal ini merupakan bagian dari eskalasi lanjutan perang yang telah berlangsung sejak akhir Februari 2026.

Dalam gelombang serangan terbaru pada 24 Maret 2026, kota Tel Aviv menjadi salah satu target utama.

Media internasional seperti The Times of Israel melaporkan sedikitnya empat titik di Tel Aviv terdampak ledakan rudal. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan pada bangunan permukiman dan kendaraan di beberapa lokasi.

Sedikitnya enam orang dilaporkan mengalami luka ringan akibat serangan tersebut. Sejumlah ledakan terjadi di area pusat kota yang memicu kepanikan warga dan gangguan aktivitas.

Laporan lain menyebut rudal yang digunakan membawa muatan bahan peledak besar sehingga menimbulkan kerusakan struktural di area terdampak, meski sebagian besar berhasil dicegat sistem pertahanan udara Israel.

Selain Tel Aviv, wilayah selatan Israel juga dilaporkan menjadi sasaran serangan, meski belum ada laporan korban jiwa dalam gelombang terbaru tersebut.

Serangan 24 Maret ini bukan yang pertama dalam beberapa hari terakhir.

Dalam eskalasi sebelumnya, Iran dilaporkan menargetkan wilayah selatan Israel seperti Arad dan Dimona—yang berada dekat fasilitas nuklir—hingga menyebabkan ratusan korban luka serta kerusakan bangunan.

Kota pelabuhan Haifa juga sempat menjadi sasaran, dengan laporan kerusakan pada fasilitas energi dan kilang minyak akibat serangan rudal.

Rangkaian serangan ini menunjukkan pola Iran yang secara konsisten menargetkan pusat ekonomi seperti Tel Aviv, infrastruktur energi, kawasan dekat fasilitas militer dan nuklir.

Bantah Klaim Trump soal Negosiasi

Di tengah eskalasi tersebut, Iran secara tegas membantah klaim Presiden AS Donald Trump yang menyebut adanya komunikasi untuk mengakhiri perang.

Seperti diberitakan oleh ITV News, pejabat Iran menegaskan tidak ada negosiasi dengan Washington dan menyebut klaim tersebut tidak berdasar.

Penolakan ini mempertegas posisi Teheran yang memilih melanjutkan perlawanan militer dibanding membuka jalur diplomasi di tengah tekanan Barat.

Tidak hanya Israel, Iran juga dilaporkan menargetkan negara-negara Arab di kawasan Teluk yang dianggap mendukung Amerika Serikat.

Mengutip laporan ITV, serangan tersebut menyasar infrastruktur strategis, termasuk fasilitas energi, sebagai bagian dari upaya memperluas tekanan terhadap sekutu AS di kawasan.

Langkah ini menandai perluasan konflik yang berpotensi menyeret lebih banyak negara ke dalam perang terbuka.

Perang Iran–Israel yang dimulai sejak 28 Februari 2026 kini berkembang menjadi konflik regional dengan intensitas tinggi.

Meski sistem pertahanan Israel mampu mencegat sebagian besar serangan, sejumlah rudal tetap menembus dan menyebabkan kerusakan serta korban.

Sementara itu, Israel terus melancarkan serangan balasan ke wilayah Iran dengan menargetkan fasilitas militer dan jaringan peluncur rudal.

Sejumlah analis menilai konflik ini belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Kedua pihak justru meningkatkan kapasitas serangan, sementara jalur diplomasi belum terbuka.

Situasi tersebut memicu kekhawatiran bahwa perang dapat berlangsung lebih lama dan meluas, dengan dampak besar terhadap stabilitas kawasan dan ekonomi global. (*)

Terkini