Iran: Barat Munafik, Ribut soal PLTN Ukraina tapi Diam Saat AS-Israel Serang PLTN Kami

Iran: Barat Munafik, Ribut soal PLTN Ukraina tapi Diam Saat AS-Israel Serang PLTN Kami
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi (tengah) saat tiba untuk negosiasi nuklir dengan Amerika Serikat di Muscat, Oman, 6 Februari 2026.(KEMENTERIAN LUAR NEGERI IRAN via AFP)

JURNALMADANI – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengecam sikap negara-negara Barat yang dinilai munafik dalam menyikapi isu keselamatan nuklir.

Ia membandingkan kekhawatiran Barat terhadap risiko di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Zaporizhzhia di Ukraina dengan sikap diam mereka atas serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap fasilitas nuklir Iran.

Dalam pernyataannya di media sosial X pada Sabtu (4/4/2026), Araghchi menyoroti minimnya respons Barat terhadap serangan yang menargetkan infrastruktur nuklir Iran, termasuk PLTN Bushehr.

Menurut dia, reaksi tersebut sangat kontras dengan kekhawatiran besar yang sebelumnya disuarakan Barat terkait keselamatan nuklir di Ukraina.

Araghchi juga memperingatkan bahwa kerusakan pada fasilitas nuklir Bushehr berpotensi menimbulkan kebocoran radioaktif yang berdampak luas di kawasan.

Ia menegaskan, dampak tersebut tidak hanya akan dirasakan Iran, tetapi juga negara-negara tetangga, terutama yang berada di kawasan Teluk Persia.

“Mereka dulu marah soal ancaman di Zaporizhzhia. Sekarang, AS dan Israel sudah membombardir Bushehr empat kali. Jika terjadi kebocoran radioaktif, dampaknya justru akan menghancurkan ibu kota negara-negara Teluk, bukan Teheran,” ujar Araghchi, tanpa menyinggung serangan Rusia ke Ukraina, dikutip dari Tasnim News Agency.

Serangan ke sektor petrokimia

Selain fasilitas nuklir, Iran juga menuding serangan terhadap sektor petrokimia menunjukkan tujuan strategis lain dari operasi militer tersebut.

Pernyataan Araghchi muncul beberapa jam setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara ke fasilitas petrokimia di Provinsi Khuzestan, Iran barat daya.

Serangan itu menargetkan kawasan industri strategis, termasuk zona petrokimia Mahshahr dan sejumlah lokasi industri lainnya.

Ketegangan meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan kampanye militer besar-besaran terhadap Iran.

Serangan AS ke Iran turut menewaskan Pemimpin Revolusi Islam, Ali Khamenei, bersama sejumlah komandan militer senior dan warga sipil pada 28 Februari lalu.

Serangan tersebut melibatkan pengeboman udara secara luas yang menyasar fasilitas militer maupun sipil di berbagai wilayah Iran, menimbulkan korban jiwa serta kerusakan infrastruktur dalam skala besar.

Sebagai balasan, militer Iran melancarkan serangan terhadap posisi Amerika Serikat dan Israel di wilayah regional dengan gelombang rudal dan drone.

Situasi ini memicu kekhawatiran meningkatnya eskalasi konflik yang tidak hanya berdampak pada keamanan kawasan, tetapi juga berpotensi menimbulkan risiko nuklir lintas negara. (*)

Berita Lainnya

Index