JURNALMADANI — Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Kabupaten Kepulauan Meranti kembali menggelar Festival Senandung Melayu sebagai bagian dari upaya melestarikan seni dan budaya Melayu sekaligus memperkenalkannya kepada generasi muda.
Kegiatan yang berlangsung di Balai Adat LAMR Kabupaten Kepulauan Meranti, Jalan Dorak, Selatpanjang, Minggu (20/9/2026), tersebut dibuka oleh Bupati Kepulauan Meranti yang diwakili Asisten Bidang Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kabupaten Kepulauan Meranti, Atan Ibrahim.
Festival Senandung Melayu tahun ini melibatkan generasi muda dengan peserta sebanyak 22 orang dari 11 sekolah tingkat SMA/MA sederajat se-Kabupaten Kepulauan Meranti. Para peserta terdiri dari 12 perempuan dan 10 laki-laki.

Dalam sambutannya, Atan Ibrahim menyampaikan apresiasi kepada LAMR Kabupaten Kepulauan Meranti, panitia pelaksana, para seniman, budayawan, sekolah, serta seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.
Menurutnya, Festival Senandung Melayu tidak sekadar menjadi ajang perlombaan atau pertunjukan seni suara, tetapi juga merupakan bagian dari upaya menjaga marwah, identitas, serta warisan budaya Melayu agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Senandung Melayu bukan sekadar seni suara. Ia adalah warisan identitas, cerminan nilai kehidupan masyarakat Melayu. Karena itu, melestarikannya bukan hanya tugas para seniman dan lembaga adat, tetapi tanggung jawab kita bersama,” ujar Atan.
Ia mengatakan, di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat, generasi muda Kepulauan Meranti perlu tetap mengenal akar budayanya, bangga terhadap identitas Melayu, serta memiliki kemampuan untuk meneruskan warisan tersebut kepada generasi selanjutnya.
“Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti berkomitmen untuk terus mendukung upaya pelestarian adat dan budaya daerah. Kita ingin budaya Melayu tidak hanya dikenang, tetapi tetap hidup, tumbuh dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat,” katanya.

Kepada para peserta, Atan berpesan agar Festival Senandung Melayu dimanfaatkan sebagai ruang untuk menunjukkan kemampuan, mempererat silaturahmi, sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap seni dan budaya Melayu.
“Jika budaya kita jaga, jati diri akan tetap terpelihara. Jika warisan kita teruskan, Melayu akan tetap hidup sepanjang masa,” ujarnya.
Beri Ruang Generasi Muda
Sementara itu, Ketua Umum DPH LAMR Kabupaten Kepulauan Meranti, Datuk Seri Afrizal Cik, mengatakan Festival Senandung Melayu merupakan salah satu kegiatan rutin yang dilaksanakan LAMR Kabupaten Kepulauan Meranti.
Ia menjelaskan, pada pelaksanaan sebelumnya festival tersebut diperuntukkan bagi peserta berusia 50 tahun ke atas. Kegiatan itu menjadi salah satu upaya untuk melihat keberlangsungan seni suara Melayu sekaligus mengenang karya-karya para seniman Melayu terdahulu.
Namun, pada tahun ini LAMR memberikan ruang lebih besar kepada generasi muda untuk terlibat secara langsung dalam pelestarian seni Melayu.
“Tahun ini kita memberikan ruang kepada generasi muda pencinta budaya dan seni Melayu untuk terus berkreasi dalam lagu,” kata Afrizal.

Ia berpesan kepada seluruh peserta agar tidak berkecil hati apabila belum berhasil meraih juara dalam festival tersebut.
Menurutnya, keberanian tampil dan kesempatan mengembangkan kemampuan jauh lebih penting untuk menjadi bekal dalam menapaki berbagai panggung seni di masa mendatang.
“Masih banyak kesempatan dan panggung seni yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan kemampuan, mulai dari tingkat kecamatan, kabupaten, provinsi hingga nasional,” ujarnya.
Afrizal juga menegaskan bahwa lagu Melayu merupakan salah satu bagian dari identitas masyarakat Melayu yang harus terus dijaga, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Anak-anak generasi muda pencinta budaya Melayu, pencinta seni Melayu, tetap berkreasi dalam lagu. Menjadi peserta terbaik di sini, tampilkanlah dengan suara-suara emasmu,” pesannya.
Ia turut menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti yang terus memberikan dukungan terhadap berbagai kegiatan LAMR, termasuk Festival Senandung Melayu.
Budaya Melayu Harus Menjadi Inspirasi Berkarya
Ketua Umum DPH LAMR Provinsi Riau, Datuk Seri Drs. H. Taufik Ikram Jamil, M.Hum., mengatakan Festival Senandung Melayu di Kepulauan Meranti memiliki arti penting karena daerah tersebut memiliki sejarah panjang dalam perkembangan seni suara Melayu.
Menurutnya, sejumlah karya dan seniman yang berasal dari wilayah yang kini menjadi Kabupaten Kepulauan Meranti turut memberikan kontribusi terhadap perkembangan seni Melayu.

Kondisi tersebut, kata Taufik, menjadi tantangan sekaligus peluang bagi generasi muda untuk meneruskan tradisi seni Melayu dengan memanfaatkan perkembangan teknologi.
“Dengan perkembangan teknologi sekarang ini, tidak mustahil anak-anak kita bisa menguasai lebih kuat dengan pemahaman kepada Melayu ini,” katanya.
Taufik juga menyinggung perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), yang menurutnya dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan karya seni apabila digunakan secara tepat dan bertanggung jawab.
“Jangan kita menganggap AI itu masalah. AI itu tergantung kepada kita, dia tergantung pada perintah kita. Salah perintah, salah dia,” ujarnya.
Ia mengingatkan agar budaya tidak hanya ditempatkan sebagai sesuatu yang dikenang atau bernostalgia dengan masa lalu. Sebaliknya, nilai-nilai budaya harus diolah menjadi sumber inspirasi untuk melahirkan karya baru dan membawa kebudayaan Melayu terus berkembang.
“Kita mengolah bukan untuk bernostalgia, tapi mengolah untuk maju ke depan. Dan sesungguhnya apa yang kita lakukan yang bersumber dari akar akan mencapai kepada puncaknya,” kata Taufik.

Ia berharap seluruh peserta dapat mengikuti festival dengan sebaik-baiknya dan menjadikan kegiatan tersebut sebagai ruang untuk mengembangkan kemampuan sekaligus memperkuat kecintaan terhadap budaya Melayu.
Festival Senandung Melayu tersebut turut dihadiri para kepala sekolah dan guru pendamping, ketua LAMR kecamatan se-Kabupaten Kepulauan Meranti, panitia pelaksana, peserta, serta pendukung dari masing-masing sekolah.
Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang pertemuan antara generasi muda, lembaga adat, pemerintah, sekolah, seniman, dan budayawan dalam menjaga keberlanjutan seni Melayu di Kabupaten Kepulauan Meranti. (*)


.jpg)