JURNALMADANI - Nama Melayu pernah berada di posisi yang serba tanggung dalam peta kebudayaan Indonesia. Selama bertahun-tahun, sebutan Melayu justru lebih sering diasosiasikan dengan Malaysia ketimbang Indonesia.
Di tengah dominasi nama-nama besar seperti Minang, Batak, Jawa, Timur, dan Sunda, Melayu seolah berjalan di garis yang berbeda. Dahulu ia nyaris tak terdengar gaungnya di kalangan anak muda.
“Kalau kita bicara suku besar di Indonesia, ada lima yang terkenal, Minang, Batak, Jawa, Timur, dan Sunda. Melayu ini unik, karena dulu tidak masif. Bahkan sering kali ketika orang mendengar Melayu, yang terbayang justru Malaysia,” ujar Leader Subsektor Musik RCH, Rino Dezapaty.
Rino katakan, waktu membawa perubahan yang perlahan namun pasti, identitas Melayu Indonesia mulai menemukan ruangnya sendiri. Munculnya nama-nama seperti Al Hafzh, penyanyi Melayu yang dikenal luas, menjadi titik balik penting.
Musik Melayu tak lagi sekadar dianggap milik negeri jiran, melainkan bagian dari kekayaan Indonesia yang otentik. Sekarang pun anak muda mulai bisa membedakan dan mengetahui kalau Melayu di Indonesia punya karakternya sendiri.
Rino menceritakan saat Riau Creative Hub (RCH) terbentuk di tahun 2024, melalui dukungan Kementerian Kebudayaan, RCH menggelar program residensi komposer selama satu bulan. Program ini melibatkan 10 komposer internasional, 10 nasional, serta 10 perwakilan dari Riau.
Program ini bukan sekadar ajang pertunjukan, melainkan bentuk apresiasi negara terhadap budaya Melayu. Para komposer diajak untuk benar-benar menyelami seperti apa Melayu hari ini, bagaimana musiknya, dan bagaimana seorang komposer bisa membawa identitas negaranya menembus pasar internasional.
Menariknya, geliat ini sejalan dengan pergeseran besar dalam dunia musik global. Jika satu dekade lalu kiblat musik masih kuat mengarah ke Barat, kini arah itu mulai berubah.
“Sepuluh tahun ke belakang, kita masih berkiblat ke Barat. Sekarang justru Barat yang mulai ke Timur,” ujar Rino.
Para musisi dan peneliti budaya dari berbagai negara datang beramai-ramai ke Indonesia, termasuk Riau. Mereka tak hanya mempelajari bunyi dan instrumen, tetapi juga tata cara bermasyarakat, nilai gotong royong, hingga cara komunitas budaya saling mendukung satu sama lain.
Indonesia, dengan kekayaan budayanya, bersama Melayu yang dulu samar, kini semakin terang. Dari pinggiran, ia bergerak ke tengah panggung sebagai identitas. (mcr)

.jpg)