Salat Ied 1440 H di Rohil Berlangsung Lancar

Ketua MUI Rohil: Yang Merugi, Yang Tidak Berpuasa

Dibaca: 14 kali  Jumat,07 Juni 2019 | 07:45:00 WIB

Ketua MUI Rohil: Yang Merugi, Yang Tidak Berpuasa
Ket Foto : Bupati H Suyatno menyalami jamaah usai solat ied Idul Fitri 1440 H/2019 di Masjid Al-Khairiyah. F Amran

ROHIL - Bupati Rohil H Suyatno, bersama istri, Hj Wan Mardiana Suyatno, Rabu, 5 Juni 2019, melaksanakan Sholat Ied Idul Fitri 1440 H/2019 di Masjid Al-Khairiyah, Jalan Madrasah, Kelurahan Bagan Timur, Kecamatan Bangko. Ramai masyarakat sekitar Masjid Al-Khairiyah melaksanakan Solat Ied Idul Fitri 1440 H/2019 bersama Bupati dan Istri.  
Adapun imam solat ied H Muhammad Yusuf, dan bilal Mustofa, serta khatib Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Rohil H Ucok Indra. Terlihat juga mantan Ketua MUI Rohil H Wan Ahmad Syaiful turut solat ied berjamaah.Adapun tema tauziah yang disampaikan Ketua MUI Rohil H Ucok Indra adalah 'Menebar Maaf, Membangun Kebersamaan'. 
 
Ketua MUI Rohil H Ucok Indra mengatakan sudah satu bulan lamanya Umat Islam di seluruh dunia melaksanakan ibadah puasa memenuhi perintah Allah SWT. Berpuasa, terang Ucok, untuk melatih mental, mengendalikan dan menahan diri dari tipu daya syaiton, yang merusak tatanan pergaulan masyarakat yang harmoni, dan sebagai kesempatan meningkatkan taqwa dan tafakkur kepada Allah. 
 
"Bulan puasa merupakan peluang yang sangat istimewa bagi kaum muslimin (umat Islam), untuk berusaha meningkatkan diri menjadi insan muttaqien, dan merugikan bagi mereka yang tidak berpuasa, meski secara fisik mampu dilakukan," kata Ketua MUI Rohil H Ucok Indra, pada tausiahnya.
 
Di hari raya Idul Fitri ini pula, jelas Ucok Indra, Umat Islam harus saling menebar maaf, memberi dan meminta maaf. Memberi dan meminta maaf, kata Ketua MUI, merupakan sikap yang dianjurkan oleh Allah SWT. 
 
"Sikap mudah memberi dan dan meminta maaf merupakan salah satu ciri orang bertaqwa. Orang yang suka memberi dan meminta maaf sebagai tanda seseorang itu memiliki nilai kepribadian dan ketaqwaan sangat luhur," ujar Ucok Indra. 
 
Orang-orang yang suka memberi maaf dan meminta maaf, jelas Ucok, sebagai mana firman Allah SWT dalam surat Ali Imran ayat 133-134, yang artinya: "Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari tuhan mu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa (133). (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan marahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan". 
 
"Kata 'Maaf' memiliki makna yang luar biasa dalam kehidupan. Kata ini bisa menghapus dendam, sakit hati, pertengkaran, dan semua hal yang berhubungan dengan hati. Dengan meminta maaf atau memaafkan berarti kita telah menang. Menang disini berarti menang melawan hawa nafsu. Kemenangan itu dapat menghadirkan rasa damai atas diri si pemberi dan atau penerima maaf," tutur Ucok. 
 
Agama Islam, terang Ucok Indra, menganjurkan setiap insan untuk memberi maaf, atas kezaliman yang dibuat orang lain. Kezaliman, ujarnya, tidak akan berhenti tanpa ada usaha kita menghentikannya. Allah SWT, sebut Ucok Indra, menjamin pahala bagi orang-orang yang mampu membalas kejahatan dengan perbuatan baik atau memaafkan. 
 
"Sesama muslim adalah saudara. Jadi sudah seharusnya kita menghindari hal-hal yang dilarang agama. Dari Abu Hurairah RA, berkata Rasulullah SAW: "Seorang muslim adalah saudara sesama muslim, tidak.boleh menganiaya sesamanya, tidak boleh membiarkannya teraniaya, dan tidak boleh merendahkanjya. Taqwa (kepatuhan kepada Allah) itu letaknya di sini..." Dan beliau mengisyaratkan ke dadanya. Perkataan ini diulanginya sampai 3 kali. 
"Cukup besar kesalahan seseorang apa bila ia menghina (merendahkan) saudaranya sesama muslim. Setip muslim terhadap sesama muslim, terlarang menumpahkan darahnya (membunuh atau melukai), merampas hartanya, dan merusak kehormatannya (nama baiknya)," pungkas Ucok. (Amran)
Akses JurnalMadani.com Via Mobile m.JurnalMadani.com